Marhaban
ya Muharam, tahun baru hijriah telah tiba, hijrah Rasulullah SAW dari Makah ke
Madinah menjadikan peristiwa yang diabadikan dalam sejarah dan dijadikan
penanggalan pertama untuk Tahun Qomariah. Dibalik semua itu pada hakikatnya Peristiwa
Hijrah merupakan bentuk dari sebuah pengorbanan umat Islam terhadap Rasulullah.
Terjadinya
hijrah dilatar belakangi oleh peristiwa Bai’at Aqabah Kedua
(Kubra) yang dilakukan oleh kaum Muslimin Madinah ketika menunaikan
manasik haji di Makkah, sumpah setia ini merupakan bentuk pengorbanan dan
kecintaan kaum muslimin Madinah terhadap Islam dan Rasulullah SAW. Mereka
sangat prihatin dengan kondisi Rasulullah yang selalu terusir dan mendapat
tekanan dari kaumnya sendiri di Makkah. Ba’iat Aqabah Kubra ini memberikan
jaminan keamanan dan ekonomi bagi kaum muslimin Makkah ketika berada Yatsrib
(Madinah).
Peristiwa
tersebut terjadi saat musim haji tahun ke-13 kenabian, datanglah sebanyak lebih
dari 70 orang kaum muslimin dari Madinah untuk menunaikan Ibadah Haji, ketika
tiba di Makkah terjadilah kontak Rahasia antara mereka dan Rasulullah yang
menghasilkan kesepakatan kedua belah pihak untuk berkumpul pada pertengahan
hari-hari tasyriq di celah yang terletak disisi Aqabah.
Pada
saat tibanya hari pertemuan, dengan cara sembunyi-sembunyi dan
mengendap-ngendap kaum muslimin Madinah yang berjumlah 73 laki-laki ditambah 2
orang perempuan, berkumpul di celah dekat Aqabah menunggu kedatangan Rasulullah
SAW, hingga akhirnya datanglah Rasulullah SAW bersama pamannya Al-Abbas bin
Abdul Muthalib yang saat itu masih memeluk agama kaumnya. Saat itu
Al-Abbas memulai pembicaraan dengan
menjelaskan secara gamblang dampak yang akan terjadi akibat persekutuan reiligi
dan militer yang menjadi buah dari persekutuan tersebut. Seperti kemungkinan
permusuhan antara Quraisy dengan Khajraz dan Aus.
Karena
kuatnya tekad yang bulat, keberanian, serta keikhalasan akhirnya terjadilah
Bai’at Aqabah Kubra yang berisikan sumpah setia kaum Muslimin Madinah untuk
selalu taat dan loyal kepada Rasulullah, berinfaq di dalam masa sulit maupun
mudah, berbuat amar ma’ruf nahi munkar, senantiasa tegak di jalan Allah,
dan selalu membela Rasulullah saat datang ke kaumnya, dan melindungi Rasulullah
sebagaimana mereka melindungi diri, istri-istri dan anak-anak mereka.
Demikianlah
dengan terjadinya Bai’at Aqabah Kubra ini kaum muslimin Madinah
yang terdiri dari kaum Khajraz dan Aus merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Rasulullah, siap membela Rasulullah memerangi kaum yang memerangi
Rasulullah dan mengadakan perdamaian dengan orang yang berdamai dengannya,
begitu juga sebaliknya.
Setelah
peristiwa Bai’at Aqabah Kubra inilah kemudian Rasulullah SAW mengizinkan kaum
muslimin untuk melakukan hijrah ke tanah air baru mereka yaitu Yastrib sekarang
Madinah yang menjadi titik tolak kesuksesan dakwah Rasulullah SAW.
Peristiwa
Bai’at Aqabah Kubra memberikan gambaran persaudaraan, solidaritas, empati,
keberanian dan rasa saling mencintai sesame mu’min tanpa dibatasi oleh
batas-batas Negara dan territorial cukup iman dan Islam menjadi pemersatu
hati-hati mereka.
Diriwayatkan
dari Abu Musa, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Mu’min terhadap mu’min yang
lain seperti sebuah bangunan dimana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”
Hikmah
selanjutnya adalah pengorbanan, pengorbanan kaum anshar tidak hanya terbatas
kepada harta, akan tetapi pengorbanan jiwa dan kehormatan untuk diinfaqkan di
jalan Allah SWT.
“Kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”



