Senin, 27 Februari 2012

Sumpah Setia dan Pengorbanan


Marhaban ya Muharam, tahun baru hijriah telah tiba, hijrah Rasulullah SAW dari Makah ke Madinah menjadikan peristiwa yang diabadikan dalam sejarah dan dijadikan penanggalan pertama untuk Tahun Qomariah.  Dibalik semua itu pada hakikatnya Peristiwa Hijrah merupakan bentuk dari sebuah pengorbanan umat Islam terhadap Rasulullah.
Terjadinya hijrah dilatar belakangi oleh peristiwa Bai’at Aqabah Kedua (Kubra) yang dilakukan oleh kaum Muslimin Madinah ketika menunaikan manasik haji di Makkah, sumpah setia ini merupakan bentuk pengorbanan dan kecintaan kaum muslimin Madinah terhadap Islam dan Rasulullah SAW. Mereka sangat prihatin dengan kondisi Rasulullah yang selalu terusir dan mendapat tekanan dari kaumnya sendiri di Makkah. Ba’iat Aqabah Kubra ini memberikan jaminan keamanan dan ekonomi bagi kaum muslimin Makkah ketika berada Yatsrib (Madinah).
Peristiwa tersebut terjadi saat musim haji tahun ke-13 kenabian, datanglah sebanyak lebih dari 70 orang kaum muslimin dari Madinah untuk menunaikan Ibadah Haji, ketika tiba di Makkah terjadilah kontak Rahasia antara mereka dan Rasulullah yang menghasilkan kesepakatan kedua belah pihak untuk berkumpul pada pertengahan hari-hari tasyriq di celah yang terletak disisi Aqabah. 
Pada saat tibanya hari pertemuan, dengan cara sembunyi-sembunyi dan mengendap-ngendap kaum muslimin Madinah yang berjumlah 73 laki-laki ditambah 2 orang perempuan, berkumpul di celah dekat Aqabah menunggu kedatangan Rasulullah SAW, hingga akhirnya datanglah Rasulullah SAW bersama pamannya Al-Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu masih memeluk agama kaumnya. Saat itu Al-Abbas  memulai pembicaraan dengan menjelaskan secara gamblang dampak yang akan terjadi akibat persekutuan reiligi dan militer yang menjadi buah dari persekutuan tersebut. Seperti kemungkinan permusuhan antara Quraisy dengan Khajraz dan Aus.
Karena kuatnya tekad yang bulat, keberanian, serta keikhalasan akhirnya terjadilah Bai’at Aqabah Kubra yang berisikan sumpah setia kaum Muslimin Madinah untuk selalu taat dan loyal kepada Rasulullah, berinfaq di dalam masa sulit maupun mudah, berbuat amar ma’ruf nahi munkar, senantiasa tegak di jalan Allah, dan selalu membela Rasulullah saat datang ke kaumnya, dan melindungi Rasulullah sebagaimana mereka melindungi diri, istri-istri dan anak-anak mereka.
Demikianlah dengan terjadinya Bai’at Aqabah Kubra ini kaum muslimin Madinah yang terdiri dari kaum Khajraz dan Aus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rasulullah, siap membela Rasulullah memerangi kaum yang memerangi Rasulullah dan mengadakan perdamaian dengan orang yang berdamai dengannya, begitu juga sebaliknya.
Setelah peristiwa Bai’at Aqabah Kubra inilah kemudian Rasulullah SAW mengizinkan kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke tanah air baru mereka yaitu Yastrib sekarang Madinah yang menjadi titik tolak kesuksesan dakwah  Rasulullah SAW.
Peristiwa Bai’at Aqabah Kubra memberikan gambaran persaudaraan, solidaritas, empati, keberanian dan rasa saling mencintai sesame mu’min tanpa dibatasi oleh batas-batas Negara dan territorial cukup iman dan Islam menjadi pemersatu hati-hati mereka.
Diriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Mu’min terhadap mu’min yang lain seperti sebuah bangunan dimana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”
Hikmah selanjutnya adalah pengorbanan, pengorbanan kaum anshar tidak hanya terbatas kepada harta, akan tetapi pengorbanan jiwa dan kehormatan untuk diinfaqkan di jalan Allah SWT.
“Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Kamis, 23 Februari 2012

Hijrah dan Kepahlawanan


Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib dua sosok sahabat yang sangat dicintai Rasullullah, dan termasuk kedalam golongan orang  yang pertama kali masuk islam (As-Sabiqun Al-Awwalun) dari kalangan pemuda dan anak, bahkan sejarah mengabadikannya sebagai dua orang khalifah  pengganti  Rasulullah dan keduanya pula mendapat jaminan syurga dari Rasulullah.
Cerita kepahlawanan Abu bakar  dan Ali bin Abi Thalib terlihat jelas pada saat Rasulullah hendak Hijrah  ke Madinah. Ketika para pemuka Quraisy yang tergabung dalam “Darun Nadwah” menyepakati   sebuah pendapat yang keji dari Abu Jahal bin Hisyam la’natullahu alaih memilih pemuda yang gagah dari setiap kabilah untuk menyergap dan membunuh Rasulullah SAW pada malam hari saat beliau biasa keluar rumah, pada saat itu pula Allah SWT memberitahukan Rasulullah melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril tentang rencana dan persekongkolan kaum Quraisy dan menyampaikan izin kepada beliau untuk hijrah meninggalkan Makkah.
Pada saat genting inilah Rasulullah mendatangi Abu Bakar untuk  menemani beliau Hijrah serta membahas tahapan-tahapan Hijrah yang akan mereka lalui bersama. Setelah di sepakati rencana hijrah tersebut, Rasulullah pulang kerumahnya menunggu datangnya malam.
Taktala malam telah gelap, para pemuda Quraisy berkumpul di depan pintu rumah beliau untuk mengintai kapan beliau bangun sehingga dapat menyergapnya. Pada malam itu Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjang rasulullah sebagai sebuah cara untuk mengelabui pemuda-pemuda Quraisy. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib rela mengorbankan nyawanya untuk menjadi sasaran kaum kafir quraisy demi melindungi Rasulullah yang sangat dicintainya padahal umurnya saat itu masih sangat belia, sehingga dengan izin Allah Rasulullah dapat lolos berhijrah setelah Allah membuat para kafir Quraisy tertidur.
Sedangkan Ali yang menggantikan Rasulullah saat bangun mendapati dirinya dikepung oleh kafir Quraisy kemudian diseret ke Ka’bah dan mengurungunya untuk mendapatkan informasi tentang Rasulullah  namun mengalami kegagalan.
Ditempat lain Abu Bakar berhijrah bersama Rasulullah meninggalkan keluarga dan hartanya serta mengorbankan dirinya untuk menjadi satu-satunya manusia yang mendampingi Rasulullah di perjalanan.  Pada saat sampai di gua Tsur Abu bakar bahkan rela menjadikan kakinya sebagai penutup lubang yang ada di gua hingga kakinya disengat binatang berbisa, bahkan saat itu Abu Bakar tidak bergeming sedikitpun karena khawatir membangunkan Rasulullah, dan di gua ini pula Allah memberikan pertolongan dengan mengelabui orang kafir Quraisy menyamarkan keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar di dalam Gua hingga pencarian mereka selama berhari-haripun gagal.  
“Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (At-Tahrim:4)
Dalam perjalan inilah Abu Bakar dengan setia menemani Rasulullah dan selalu mencukupi kebutuhan-kebutuhan Rasulullah selama perjalanan hingga sampai di Madinah.
Kedua sosok  sahabat yang sangat dicintai Rasulullah SAW ini yaitu Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib telah mengajarkan sosok pahlawan yang sebenarnya dalam peristiwa Hijrahnya Rasulullah. Seorang Pahlawan bukanlah orang yang karya dan perbuatannya ingin dilihat oleh orang untuk mendapatkan titel dan ketenaran, akan tetapi seorang pahlawan adalah seorang yang rela mengorbankan, jiwa, harta, dan keluarganya untuk agama dan bangsanya, semoga kita dapat belajar dari keteladanan para sahabat.

Selasa, 21 Februari 2012

Mengembangkan Industri Inovatif

(Tulisan ini di muat di Suara Mahasiswa Seputar Indonesia edisi Sabtu, 14 Januari 2012)

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia boleh merasa bangga dengan hadirnya mobil kiat Esemka yang merupakan hasil kreatifitas anak bangsa, bagaimana tidak mobil inipun telah mendapatkan kepercayaan dari walikota solo Joko Widodo untuk dijadikan mobil dinas sang walikota, tentunya merupakan sebuah penilaian bahwa mobil ini layak pakai dan aman untuk digunakan di jalan raya, selain itu Joko Widodo sebagai seorang pengusaha tentunya tidak diragukan dalam pengetahuannya terkait mobil-mobil berkualitas. 

Kualitas mobil ini kembali dipertegas dengan banyaknya anggota Dewan yang ikut memesan mobil hasil karya anak bangsa tersebut. Hingga tulisan ini dibuat pengunjung resmi website kiat smk www.mobilsmk.com sudah mencapai 15.470 orang, hal ini menandakan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap industri mobil nasional sangat besar dan memunculkan harapan baru bagi kemajuan industri dalam negeri. Dengan demikian mobil hasil rakitan siswa SMK di solo ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Menurut data dari BPPT Mobil Kiat Esemka yang sekarang ini sedang menjadi isu mengemuka dalam dunia otomotif nasional, bukanlah mobil pertama buatan anak bangsa, sebelumnya sudah ada mobil tawon, GEA dan sebagainya. 

Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan baru di benak saya, akankah mobil Kiat Esemka tersebut dapat diproduksi menjadi mobil nasional dan menjadi produk kebanggaan bangsa…? Atau hanya euphoria sesaat dan tidak dapat bersaing baik secara kualitas maupun harga dengan mobil-mobil buatan luar negeri. Menghadapi hal demikian tentunya harus ada kreasi-kreasi inovatif baik dari pemerintah ataupun pengusaha mobil ini dalam memajukan industri mobil dalam negeri, perlu adanya sinergi antara human creativities dan kemajuan teknologi, karena walau bagaimanapun kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan sebuah industri. 

Mobil kiat esemka ini harus juga memperhatikan performa kapasitas engine, body kendaraaan serta interior dan eksterior mobil supaya tidak kalah bersaing dengan mobil-mobil dari luar, Kehematan bahan bakar dalam laju jarak tempuh serta harga harus yang lebih ekonomis juga menjadi pertimbangan. Industri inovatif dengan rumus ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) seperti yang dilakukan oleh kiat Esemka tentunya harus menjadi pemantik bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk memajukan industri-industri dalam bidang lainnya, kita tahu bangsa Indonesia saat ini menjadi bangsa yang sangat konsumtif dalam hal pemakaian kendaraan dan teknologi terutama motor, internet dan handphone. 

Maka akan lebih baik jika bangsa ini juga dapat menguasai industri dalam negeri dan menjadi raja di negeri sendiri, untuk itu Marilah kita bersama-sama merubah paradigma konsumtif bangsa ini menjadi bangsa yang lebih produktif yang tentunya akan terwujud dengan adanya semangat dan inovasi-inovasi baru.

Hijrah Dan Kepekaan Sosial




Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib dua sosok sahabat yang sangat dicintai Rasullullah, dan termasuk kedalam golongan orang yang pertama kali masuk islam (As-Sabiqun Al-Awwalun) dari kalangan pemuda dan anak, bahkan sejarah mengabadikannya sebagai dua orang khalifah pengganti Rasulullah dan keduanya pula mendapat jaminan syurga dari Rasulullah.

Cerita kepahlawanan Abu bakar dan Ali bin Abi Thalib terlihat jelas pada saat Rasulullah hendak Hijrah ke Madinah. Ketika para pemuka Quraisy yang tergabung dalam “Darun Nadwah” menyepakati sebuah pendapat yang keji dari Abu Jahal bin Hisyam la’natullahu alaih memilih pemuda yang gagah dari setiap kabilah untuk menyergap dan membunuh Rasulullah SAW pada malam hari saat beliau biasa keluar rumah, pada saat itu pula Allah SWT memberitahukan Rasulullah melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril tentang rencana dan persekongkolan kaum Quraisy dan menyampaikan izin kepada beliau untuk hijrah meninggalkan Makkah.

Pada saat genting inilah Rasulullah mendatangi Abu Bakar untuk menemani beliau Hijrah serta membahas tahapan-tahapan Hijrah yang akan mereka lalui bersama. Setelah di sepakati rencana hijrah tersebut, Rasulullah pulang kerumahnya menunggu datangnya malam.

Taktala malam telah gelap, para pemuda Quraisy berkumpul di depan pintu rumah beliau untuk mengintai kapan beliau bangun sehingga dapat menyergapnya. Pada malam itu Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjang rasulullah sebagai sebuah cara untuk mengelabui pemuda-pemuda Quraisy. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib rela mengorbankan nyawanya untuk menjadi sasaran kaum kafir quraisy demi melindungi Rasulullah yang sangat dicintainya padahal umurnya saat itu masih sangat belia, sehingga dengan izin Allah Rasulullah dapat lolos berhijrah setelah Allah membuat para kafir Quraisy tertidur.

Sedangkan Ali yang menggantikan Rasulullah saat bangun mendapati dirinya dikepung oleh kafir Quraisy kemudian diseret ke Ka’bah dan mengurungunya untuk mendapatkan informasi tentang Rasulullah namun mengalami kegagalan.

Ditempat lain Abu Bakar berhijrah bersama Rasulullah meninggalkan keluarga dan hartanya serta mengorbankan dirinya untuk menjadi satu-satunya manusia yang mendampingi Rasulullah di perjalanan. Pada saat sampai di gua Tsur Abu bakar bahkan rela menjadikan kakinya sebagai penutup lubang yang ada di gua hingga kakinya disengat binatang berbisa, bahkan saat itu Abu Bakar tidak bergeming sedikitpun karena khawatir membangunkan Rasulullah, dan di gua ini pula Allah memberikan pertolongan dengan mengelabui orang kafir Quraisy menyamarkan keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar di dalam Gua hingga pencarian mereka selama berhari-haripun gagal.

“Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (At-Tahrim:4)

Dalam perjalan inilah Abu Bakar dengan setia menemani Rasulullah dan selalu mencukupi kebutuhan-kebutuhan Rasulullah selama perjalanan hingga sampai di Madinah.
Kedua sosok sahabat yang sangat dicintai Rasulullah SAW ini yaitu Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib telah mengajarkan sosok pahlawan yang sebenarnya dalam peristiwa Hijrahnya Rasulullah. Seorang Pahlawan bukanlah orang yang karya dan perbuatannya ingin dilihat oleh orang untuk mendapatkan titel dan ketenaran, akan tetapi seorang pahlawan adalah seorang yang rela mengorbankan, jiwa, harta, dan keluarganya untuk agama dan bangsanya, semoga kita dapat belajar dari keteladanan para sahabat.

Senin, 20 Februari 2012

2012, Ajang Pembuktian Pimpinan KPK

Oleh: Ade Irfan Abdurahman
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Tahun 2011 menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi pemberantasan korupsi di Indonesia, beberapa kasus terus menyita perhatian publik, karena kerap berkaitan dengan pejabat pemeritahan, dan merugikan keuangan negara. Disisi lain kasus-kasus besar yang sudah ada sejak tahun 2004 hingga 2011 belum juga terselesaikan diantaranya Kasus suap cek pelawat pemilihan senior Deputi Gubernur Senior BI (2004), Kasus Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKTR) Kementrian Kehutanan (2009), Kasus Bank century (2010), Kasus Korupsi dan Mafia Pajak Gayus Tambunan (2010), Hingga kasus kakap baru yang terjadi di 2011 yaitu kasus Suap Wisma Atlet Sea Games yang melibatkan M Nazarudin dan menyeret para politisi elit Demokrat untuk diperiksa.

Jika di total kerugian negara akibat beberapa kasus diatas mencapai 245,5 Triliun sebuah angka yang fantastis jika dibandingkan dengan target APBN negara tahun 2012 yang hanya mencapai

Fakta di atas menggambarkan telah terjadinya sistem Kleptocracy di Indonesia, Kleptocracy menurut Gun gun Heryanto, Direktur The Political Literacy Institute dipopulerkan oleh Stanislav Andreski dalam Kleptocracy or Corruption as a System of Government (1968) yang menggarisbawahi peran penguasa atau pejabat tinggi yang tujuan utamanya adalah pengayaan pribadi.

Kleptocracy tentunya menjadi tantangan bagi pimpinan KPK terpilih, khususnya Abraham Samad sebagai ketua KPK yang menargetkan untuk menyelesaikan salah satu dari kasus kakap dalam jangka waktu satu tahun. Hal ini bukan perkara yang mudah karena bukan tidak mungkin para koruptor melakukan aksi balik menyerang KPK atau yang dikenal dengan istilah “Corruptor Fight Back” seperti yang telah di alami oleh Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto pimpinan KPK periode sebelumnya.

Dalam menghadapai hal ini Abraham Samad sebagai aktivis anti korupsi di daerah yang berasal dari Makassar dianggap memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja, ditambah lagi dengan back ground beberapa pimpinan KPK lainnya yang nota bene berlatar belakang orang hukum, seharusnya dapat mempermudah upaya pemberantasan korupsi.
 
Upaya pemberantasan korupsi ini tentunya tidak akan terjadi jika tidak adanya sinergi antara supra struktur politik dan infra struktur politik yang ada di Indonesia. KPK sebagai bagian dari supra struktur politik dan memiliki kebijakan dalam upaya pemberantasan korupsi, harus dikawal oleh infra struktur politik yang mejadi bagian dari masyarakat untuk memberikan pressure terhadap kebijakan pemerintah dan mengawasi jalannya pemberantasan korupsi.

Tahun 2012 harus menjadi bukti nyata bagi pimpinan KPK untuk lebih optimal memperbaiki kinerja dan memperbaiki citra KPK di hadapan masyarakat, jika tahun 2012 pemberantasan korupsi masih jalan di tempat, maka mundur dari jabatan harus menjadi pilihan utama.