وَعَنْ سَهْلِ بْنِ
سَعْدٍ قَالَ: ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اَللَّهِ! دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اَللَّهُ
وَأَحَبَّنِي اَلنَّاسُ. فـقَالَ: اِزْهَدْ فِي اَلدُّنْيَا يُحِبُّكَ اَللَّهُ وَازْهَدْ
فِيمَا عِنْدَ اَلنَّاسِ يُحِبُّكَ اَلنَّاسُ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَسَنَدُهُ
حَسَنٌ
Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seseorang
menghadap Nabi SAW. dan berkata: Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang bila
aku melakukannya aku disukai Allah dan manusia. Beliau bersabda: Zuhudlah dari
dunia, Allah akan mencintaimu dan Zuhudlah dari apa yang dimiliki manusia,
mereka akan mencintaimu. (Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Hadits diatas secara
gamblang menjelaskan dua syarat agar manusia dicintai oleh Allah dan
sesama manusia. Kedua syarat ini sudah dibuktikan mulai dari Rasulullah, Para
Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah emas
kebangkitan Islam.
1. Syarat Pertama adalah Zuhud dari Dunia
Pertama, kita akan membahas
definisi zuhud. Secara bahasa kata zuhud berasal dari bahasa Arab زَهَدَ - يَزْهَدُ -زُهْدً berarti “meninggalkan” . Orang
yang zuhud disebut Zahid.
Secara harfiah, zuhud
berarti meninggalkan sesuatu yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan
gemerlap kehidupan dunia yang bersifat material.
Al-Qur’an menggambarkan seorang zahid lebih mengutamakan atau mengejar
kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi daripada mengejar kehidupan dunia yang
fana.
Hal ini dapat dipahami
dari isyarat ayat berikut:
“Katakanlah: Kesenangan dunia ini hanya
sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu
tidak akan dianiaya sedikitpun.” ( Q.S. An-Nisa 4 : 77 ).
Ayat di atas memberi
petunjuk bahwa kehidupan dunia yang hanya sementara tidaklah sebanding dengan
kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan
dunia. Lebih lanjut Allah berfirman, “Sedangkan kehidupan akhirat adalah
lebih baik dan lebih kekal.” ( QS. Al-A’la 87 : 17 ).
Seorang zahid bukan
berarti meninggalkan dunia secara total, mereka menjadikan dunia sesuai dengan
apa yang diperintahkan Allah untuk mengelola kehidupan dengan baik, mereka
tidak diperbudak dunia, tapi dunialah yang mereka manfaatkan untuk mencari
keridhaan Allah sebanyak-banyaknya. Inilah hakikat zuhud.
Perhatikan ayat berikut:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (
kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
kenikmatan duniawi, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” ( Q.S. Al Qashash 28 :77 )
Dalam ayat ini Allah menjelaskan
bahwa kebahagiaan akhirat adalah anugrah yang akan diberikan kepada orang-orang
yang mencarinya. Namun kenikmatan dunia juga merupakan bagian dari Anugrah
Allah SWT yang memang pantas dinikmati selama masih dalam koridor yang
ditentukan olehNya. Koridor itu adalah; tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
2.
Rahasia Kedua adalah
Zuhud dari apa yang Dimiliki Manusia,
Mereka akan Mencintaimu.
Manusia
berbondong-bondong mencari kesenangan hidup untuk dinikmati, berbagai cara
dilakukan untuk menggapai apa yang diinginkan. Baik dengan cara yang halal
maupun dengan cara yang haram.
Perebutan
terhadap kesenangan dunia terkadang menimbulkan petaka. Permusuhan,
perkelahian, peperangan, penjajahan, kerap terjadi karena sekelompok manusia
menginginkan apa yang menjadi milik orang lain.
Perhatikan
bagaimana perang dunia dan penjajahan utamanya disebabkan karena perebutan gold
dan glory dengan melakukan penindasan terhadap peradaban dan kaum yang lemah. Dan
itu tentunya harus dihindari, masa depan harus bisa belajar dari
kesalahan-kesalahan masa lalu.
Kembali kepersoalaan..
jika kemudian perebutan akan harta, kejayaan menyebabkan permusuhan. Maka menghindari
tentunya akan menyebabkan manusia hidup dalam kententraman.
Menghindari disini bukan
dalam konteks tidak boleh memilikinya sama sekali, karena setiap manusia memang
dihiasi kecintaan terhadap harta.
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Ali
Imran: 14”
Maksud dari menghindari
disini adalah memiliki secukupnya saja dan tidak berusaha mengejar apa yang
sudah dimiliki orang lain, tidak mengejar-ngejar apa yang menjadi hak orang
lain.
Merujuk beberapa
penjelasan tadi, singkatnya dapat disimpulkan bahwa orang yang akan mendapat
cinta Allah dan sesama manusia adalah orang yang zuhud dimana ia mengutamakan
kehidupan akhirat dan mereka tidak berlebihan dalam mengejar kehidupan dunia,
sehingga terjadi keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu
A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar