Sabtu, 02 Maret 2013

Dua Syarat Agar Dicintai Allah dan Manusia



وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اَللَّهُ وَأَحَبَّنِي اَلنَّاسُ. فـقَالَ: اِزْهَدْ فِي اَلدُّنْيَا يُحِبُّكَ اَللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ اَلنَّاسِ يُحِبُّكَ اَلنَّاسُ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَسَنَدُهُ حَسَنٌ
Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seseorang menghadap Nabi SAW. dan berkata: Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang bila aku melakukannya aku disukai Allah dan manusia. Beliau bersabda: Zuhudlah dari dunia, Allah akan mencintaimu dan Zuhudlah dari apa yang dimiliki manusia, mereka akan mencintaimu. (Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Hadits diatas secara gamblang menjelaskan dua syarat agar manusia dicintai oleh Allah dan sesama manusia. Kedua syarat ini sudah dibuktikan mulai dari Rasulullah, Para Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah emas kebangkitan Islam.

1.      Syarat Pertama adalah Zuhud dari Dunia

Pertama, kita akan membahas definisi zuhud. Secara bahasa kata zuhud berasal dari bahasa Arab زَهَدَ  - يَزْهَدُ -زُهْدً  berarti “meninggalkan” . Orang yang zuhud disebut Zahid.
Secara harfiah, zuhud berarti meninggalkan sesuatu yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan dunia yang bersifat material.
Al-Qur’an menggambarkan seorang zahid lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi daripada mengejar kehidupan dunia yang fana.
Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat berikut:

 “Katakanlah: Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” ( Q.S. An-Nisa 4 : 77 ).

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang hanya sementara tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia. Lebih lanjut Allah berfirman, “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” ( QS. Al-A’la 87 : 17 ).
Seorang zahid bukan berarti meninggalkan dunia secara total, mereka menjadikan dunia sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah untuk mengelola kehidupan dengan baik, mereka tidak diperbudak dunia, tapi dunialah yang mereka manfaatkan untuk mencari keridhaan Allah sebanyak-banyaknya. Inilah hakikat zuhud.
Perhatikan ayat berikut:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu  ( kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” ( Q.S. Al Qashash 28 :77 )

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kebahagiaan akhirat adalah anugrah yang akan diberikan kepada orang-orang yang mencarinya. Namun kenikmatan dunia juga merupakan bagian dari Anugrah Allah SWT yang memang pantas dinikmati selama masih dalam koridor yang ditentukan olehNya. Koridor itu adalah; tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

2.      Rahasia Kedua adalah Zuhud dari apa yang Dimiliki Manusia, Mereka akan Mencintaimu.

Manusia berbondong-bondong mencari kesenangan hidup untuk dinikmati, berbagai cara dilakukan untuk menggapai apa yang diinginkan. Baik dengan cara yang halal maupun dengan cara yang haram.
Perebutan terhadap kesenangan dunia terkadang menimbulkan petaka. Permusuhan, perkelahian, peperangan, penjajahan, kerap terjadi karena sekelompok manusia menginginkan apa yang menjadi milik orang lain.
Perhatikan bagaimana perang dunia dan penjajahan utamanya disebabkan karena perebutan gold dan glory dengan melakukan penindasan terhadap peradaban dan kaum yang lemah. Dan itu tentunya harus dihindari, masa depan harus bisa belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu.
Kembali kepersoalaan.. jika kemudian perebutan akan harta, kejayaan menyebabkan permusuhan. Maka menghindari tentunya akan menyebabkan manusia hidup dalam kententraman.
Menghindari disini bukan dalam konteks tidak boleh memilikinya sama sekali, karena setiap manusia memang dihiasi kecintaan terhadap harta. 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Ali Imran: 14”

Maksud dari menghindari disini adalah memiliki secukupnya saja dan tidak berusaha mengejar apa yang sudah dimiliki orang lain, tidak mengejar-ngejar apa yang menjadi hak orang lain.  
Merujuk beberapa penjelasan tadi, singkatnya dapat disimpulkan bahwa orang yang akan mendapat cinta Allah dan sesama manusia adalah orang yang zuhud dimana ia mengutamakan kehidupan akhirat dan mereka tidak berlebihan dalam mengejar kehidupan dunia, sehingga terjadi keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar