Senin, 03 Februari 2014

Kinerja dan Wacana Pencapresan Jokowi


 
Tepat hari jum’at 10 januari 2014 lalu, Media Survei Nasional membuat release tentang Persepsi Publik Jakarta Atas Kinerja Dan Wacana Pencapresan Jokowi. ini cukup menarik karena selama ini elektabilitas jokowi terbang tinggi, dan terus melejit. Beberapa survei sudah dilakukan, namun, hanya segelintir yang mencoba meneliti tanggapan masyarakat jakarta terhadap isu pencapresan tersebut, padahal pendapat masyarakat Jakarta tak bisa dikesampingkan, bahkan harus menjadi prioritas.
Ini tentu menjadi menarik karena Jokowi baru menjabat Gubernur DKI selama 1 tahun 5 bulan (dilantik 15 Oktober 2012) dari 5 tahun masa jabatannya. Lantas bagaimana hasilnya? dengan menggunakan metode face to face interview Median menemukan bahwa secara umum kinerja Jokowi di DKI Jakarta mendapat sorotan positif dari warganya; 61,6 % warga DKI merasa puas, 22,5 % tidak puas, dan 15,9 % puas.  Fakta ini sepertinya dilatar belakangi dengan adanya beberapa program Jokowi yang baru dan menjadi sorotan yang terus menerus dari media.
Lebih detil lagi evaluasi kinerja Jokowi kemudian di break down ke dalam 14 masalah. Dan hasilnya kepuasan masyarakat kepada Jokowi terlihat pada enam bidang kinerja, yaitu: kesehatan, pendidikan, penertiban PKL, kebersihan, kualitas birokrasi, dan penataan taman dengan tingkat kepuasan diatas 60 %. Sedangkan 8 bidang lainnya seperti kemacetan, pengangguran, kemiskinan, banjir, kriminalitas, angkutan umum, dan pengendalian narkoba didominasi ketidak puasan diatas 40 %.
Jika melihat data diatas, kinerja yang mendapat apresiasi positif di dominasi oleh kinerja-kinerja yang berkaitan erat dengan layanan masyarakat. Artinya Jokowi dan Ahok cukup berhasil dalam menaikan kinerja dan layananan Pemda DKI. Jokowi dan Ahok juga cukup berhasil dalam menegakkan peraturan-peraturan Daerah dan pandai dalam bernegoisasi dengan masyarakat.
Sedangkan ketidakpuasan masih didominasi oleh masalah-masalah lama yang bertahun-tahun sulit diatasi dan membutuhkan kerjasama yang lebih luas.

Isu Pencapresan
Namun terlalu dini dan terasa tidak adil jika kinerja satu tahun ini menjadi tolak ukur kinerja Jokowi. Apalagi jika keberhasilan kinerja jokowi tadi dipergunakan untuk mengukur kepantasan Jokowi untuk menjadi Calon Presiden. Bagi saya ini masih terlalu cepat, keberhasilan kinerja dalam beberapa bidang tadi belum menyentuh akar permasalahan, dan masih membutuhkan bukti yang lebih banyak lagi. Penertiban PKL misalnya pada awal penertibannya menyisakan masalah kesiapan tempat. Apalagi masalah-masalah lawas DKI, seperti Banjir, dan kemacetan, masih belum memperlihatkan kemajuan.
Lantas, seberapa layakkah Jokowi menjadi Capres..? Sudahkan warga DKI mengetahui isu tersebut..? Bagaimanakah sikap warga DKI dalam menanggapi isu tersebut...?
Isu tentang pencapresan Jokowi ternyata banyak diketahui warga Jakarta, 81, 22 % warga mengetahui isu tersebut. Cara Komunikasi politik Jokowi yang kurang tegas terhadap maju atau tidaknya ia dalam pencapresan mengundang kebingungan dalam persepsi publik, sebagiaan menggap Jokowi akan bersedia (35,58 %), 30,41 % mengatakan Jokowi tidak bersedia, sedangkan sisannya (34,01 %) menyatakan tidak tahu.
Sedangkan persepsi warga DKI terhadap pencapresan Jokowi menunjukan 30,37 % setuju, 57,35 % tidak setuju, dan 12,28% tidak tahu. Alasan ketidak setujuan ternyata berkaitan dengan etika politik dan penyelesaian masalah. Alasan ketidak setujuan teratas menunjukan bahwa warga meminta Jokowi untuk menyelesaikan terlebih dahulu masalah di Jakarta, dan menuntaskan terlebih dahulu masa jabatannya, terutama dalam menyelesaikan masalah banjir dan dan kemacetan.
Sebagai warga DKI, sayapun sependapat dengan mayoritas masyarakat yang tidak setuju kepada pencapresan Jokowi, bukan meragukan kompetensi Jokowi untuk menjadi capres, tidak hanya itu, ini masalah etika politik, dimana Jokowi harus tetap bekerja membangun dan merelisasikan janji-janji kampanyenya kepada warga DKI. Jika terjadi pencapresan tentu akan membuat kekosongan kepemimpinan di DKI Jakarta,  proses pergantian dari Gubernur kepada wakilnya tentu juga akan menimbulkan masalah baru terhadap kondisi Jakarta yang hingga saat ini masih dilanda masalah banjir dan kemacetan.
Baik Jokowi maupun Megawati selaku Ketua Umum PDIP memang belum secara tegas mengusung siapa bakal Capres untuk 2014. Namun pencapresan Jokowi harus difikirkan ulang oleh berbagai pihak, biarlah Jokowi bekerja dan menyelesaikan terlebih dahulu masalah ibu kota yang masih sangat kompleks. Dan munculkan tokoh-tokoh lain yang lebih berkompeten dan lebih siap untuk menjadi Presiden. Wallahu’alam