Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
sepertinya berhasil mengubah cobaan dan musibah menjadi rahmat dan karunia.
Bagaimana tidak, ditengah kencangnya badai yang sedang menimpa partai
berlambang bulan sabit ini, mereka justru memenangi dua pilkada, di dua
provinsi dengan penduduk terbesar, yaitu Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Berbeda dengan Partai Demokrat
yang suara calonnya terjun bebas pasca ditetapkannya Ketua Umum Anas
Urbaningrum sebagai tersangka, PKS justru berhasil menjaga kepercayaan
pemilihnya, dan menjaga soliditas mesin partainya sehingga mencapai target yang
maksimal. Mereka berhasil keluar dari dampak kasus hukum yang menjerat mantan
presiden mereka Lutfi Hasan Ishaq dan menjungkirbalikan prediksi pengamat.
Ada seorang sosok yang menjadi
perhatian masyarakat dan media yang dianggap mempunyai andil besar dibalik
keberhasilan PKS di dua provinsi tersebut, sosok itu adalah Anis Matta. Bagaimana
tidak hanya dalam waktu singkat seorang Presiden PKS pengganti Lutfhi Hasan
Ishaq ini mampu memotivasi dan menjaga kepercayaan diri kader partai untuk keluar
dari masalah yang sedang mereka hadapi, sehingga bisa tetap bekerja dan fokus
terhadap masa depan.
Retorika “Soekarno Muda”
Anis Matta menjadi sosok yang
paling berjasa dalam mendongkrak optimisme kader. Dalam pidato pertama saat
diumumkan penjadi pengganti LHI, Anis memilih kata-kata tepat yang mampu
menjaga soliditas dan kepercayaan kader. Kata-kata seperti memohon pertolongan
pada Allah SWT, cinta, ukhuwah, persaudaraan, soliditas, konspirasi, taubat dan
macan tidur mampu membius kader-kader PKS dan simpatisan untuk tetap loyal kepada
partai yang lahir pada masa transisi reformasi ini.
Kasus korupsi yang pertama kali
dalam sejarah partai dakwah ini, memang tidak tanggung-tanggung, langsung
menimpa presidennya. Walaupun menjadi aib yang berpotensi menyebabkan loyalitas
kader menurun atau bahkan loncat kepartai lain. Justru oleh Anis Matta
dijadikan momentum untuk konsolidasi dan merapatkan barisan. Retorika pidato
Anis Matta saat pertama kali dipilih menjadi presiden tampaknya mampu menyentuh
sisi emosial kader, simpatisan, bahkah masyarakat untuk lebih mencintai partai
ini.
Kecintaan kader tersebut terbukti
dengan julukan “Soekarno Muda” yang diberikan oleh kader-kader PKS kepadanya.
Anis dianggap sebagai sosok yang pandai beretorika, cerdas, dapat dipercaya,
mampu memilih kata-kata yang tepat dan menyentuh hati. Masih jauh memang untuk
mensejajarkan Anis Matta dengan Soekarno, namun gelar tersebut merupakan sebuah
penghargaan terhadap cara retorika Anis Matta.
Sepertinya oleh khalayak, Anis
Matta dianggap memiliki tiga sumber kredibilitas yang baik dalam retorika yang
dapat menumbuhkan kepercayaan publik. Aristotles dalam Rethoric, menyebutkan tiga
sumber kredibilitas yang baik yaitu intelligence, character, dan goodwill.
3 Sumber Kredibilitas Anis Matta
Ketiga sumber kredibilitas yang dimaksud diatas
adalah: Pertama; Intelligence atau kecerdasan. Dimana orator memiliki
kebijaksanaan dan kemampuan dalam berbagi nilai atau kepercayaan dengan
khalayaknya.
Sebagai
mantan Sekjend partai yang sudah empat periode menjabat, Anis tentunya mengerti
betul kriteria khalayak yang sedang dihadapinya. Kader dan simpatisan PKS yang
mayoritas peduli terhadap isu-isu zionisme, propaganda Amerika, serta ketidaksenangan
barat terhadap perkembangan syariat Islam. Maka Anis dengan cerdas memakai kata
“konspirasi” dalam pidato perdananya.
Kata
“konspirasi” menjadi sangat penting, karena seolah-olah proses hukum yang
sedang dialami LHI bukanlah murni perkara korupsi. Dengan menggunakan kata
“konspirasi” Anis ingin membingkai bahwa LHI dijebak oleh sebuah kekuatan besar
yang menjadikan KPK sebagai “alat” politik.
Dibalik ada atau tidaknya kospirasi, Anis terbukti mampu menyesuaikan
diri dengan cara berpikir khalayaknya, untuk kemudian disesuaikan dengan cara
berpikirnya.
Sumber
kedua adalah Character. Karakter lebih kepada citra orator sebagai orang yang
baik dan orang yang jujur. Jika seorang orator mampu memiliki citra sebagai
orang yang baik dan jujur, apapun kata-kata yang disampaikan dalam orasinya
maka khalayak cenderung lebih mudah untuk percaya. Itulah yang terjadi pada
Anis Matta.
Perlu
diketahui dimata kader, Anis Matta merupakan sosok yang cukup disegani. Anis
tidak hanya dikenal sebagai politisi, namun Anis juga dikenal sebagai seorang
penulis yang banyak menghasilkan karya-karya yang menjadi rujukan kader-kader
PKS. Temanya mulai yang bertema "serius" hingga cinta. Tidak hanya kader,
karya “Soekarno Muda” ini juga banyak diminati oleh banyak orang diluar kader
PKS.
Jadi
citra Anis Matta sebagai orang yang baik, jujur, dan cerdas, tidak hanya
terlihat dari kinerjanya sebagai seorang politisi. Citra Anis Matta sudah
terbentuk dari karya-karyanya yang menggugah dan diminati masyarakat. Beberapa
buku yang ditulis Anis Matta yaitu Model Manusia Muslim Abad XXI, Menikmati Demokrasi, Membentuk Karakter Cara Islam, Dari Gerakan ke Negara, Mencari Pahlawan Indonesia, Dialog Peradaban yang ditelus bersama Ary
Ginanjar, Delapan Mata Air Kecemerlangan, Serial
Cinta dan masih banyak lagi.
Sumber
kredibilitas Ketiga adalah Good will atau niat baik, ini merupakan penilaian
positif yang coba ditularkan oleh orator kepada khalayaknya. Anis Matta mungkin
mampu memperlihatkan kecerdasannya, menunjukkan karakter kepribadiannya yang
baik, akan tetapi belum tentu mampu ‘menyentuh hati’ khalayaknya.
Sebagai
seorang motivator, pembelajar sastra, dan penulis tentu tidak sulit bagi Anis
Matta untuk menyentuh hati khalayak, kata-kata seperti “saya mencintai” yang
disampaikan untuk LHI, pengurus partai, dan kader menjadi bagian cara menyentuh
hati khalayak. Kalimat Istigfar dipilih sebagai ungkapan bahwa PKS hanyalah
kumpulan manusia yang bisa saja berbuat salah, dibalik tudingan adanya
konspirasi besar, Anis membingkai Taubatan nasional sebagai bentuk perbaikan
dan memulai kebangkitan.
Dibalik
gelar “Soekarno Muda” yang disematkan kepada Anis Matta, yang jelas Retorika
Anis Matta memang berhasil memompa semangat baru kader-kader PKS sehingga mampu
melupakan masa lalu, serta fokus terhadap masalah dan kerja-kerja yang sedang
dihadapi.


