Selasa, 30 Oktober 2012

Memahami Makna Hidup



Saudaraku…!
Kehidupan merupakan sebuah amanah, yang diberikan sang Khalik bagi Makhluknya, amanah yang begitu banyak orang ingin kekal mencicipinya, amanah yang menyebabkan orang rela saling membunuh akibat mempertahankannya. Sebagian orang melupakan cara menjalan hidup walaupun hidayah kerap mendatanginya, kehidupan adalah amanah yang hanya dapat dijalankan oleh  orang-orang yang mendedikasikan setiap detiknya bagi sang  Maha Pencipta.

Bagaimanakah dengan kita..?
Sudahkah kita menjalankan amanah ini dengan baik? Hingga saat azal menjemput, kita dapat tersenyum gembira disaat orang disekelilng kita menangisi kepergian kita. Siapkah kita disaat di alamkubur nanti, kedua malaikat penjaga mengajukan beberapa pertanyaan, pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh orang-orag yang beriman, bukan orang yang pura-pura beriman, atau beriman saat dilihat orang, apalagi dilihat sang gebetan. 

Hidup adalah perjuangan…! 
Begitulah para pejuang meneriakan kata-kata yang dapat membuat semangat berkobar, berjuang untuk kemerdekaan, berjuang keluar dari segala bentuk penindasan, berjuang keluar dari kemiskinan, berjuang keluar dari bentuk-bentuk kejahiliahan yang tanpa  disadari masih ada disekitar kita walaupun zamannya telah berlalu terhapus oleh datangnya Islam.
Hidup adalah Ibadah…! Iniah hakikat hidup sesungguhnnya, hakikat kehidupan yang sesuai dengan tujuan diciptakan manusia di muka bumi ini, hakikat kehidupan yang didalamnya mencakup seluruh nilai-nilai positif, karena ibadah merangkum semua jenis kebaikan,  beribadah tidak hanya beberbentuk ritual semata (shalat, zakat, puasa, dll), melainkan lebih dari itu beribadah berarti melaksanakan tugas-tugas sosial;  memperhatikan sesama, saling membantu, memberikan senyuman, selalu berhusnudzon, menjaga  perdamaian, menguragi penganguran, membuat lapangan pekerjaan, hingga membuang duri dijalanan merupakan bagian dari ibadah. 

Saudaraku ingatlah…! 
Dalam shalat kita selalu berkata “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata”

Hidup=Mempersiapkan Akhirat
Hidup yang kita rasakan saat ini adalah jalan menuju akhirat yang lebih kekal, jalan menuju alam dimana manusia hanya akan diberi dua pilihan “SURGA & NERAKA”, jalan manakah yang akan kita pilih…? Kebaikan atau keburukan…? Jalan Syetan atau Jalan Tuhan?
Kehidupan diibaratkan sawah,  sawah dimana manusia  bisa menanamkan apa saja yang diinginkan,  untuk akhirnya di akhirat nanti manusia akan menyemai hasilnya…!
Amanah kehidupan adalah amanah yang sangat berharga, dimana amanah ini akan dengan mudahnya diambil, saat tiba waktunya, kapanpun, dimanapun, amanah ini bisa terlepas begitu saja diambil oleh sang pemilik amanah. 

Saudaraku...! jangan pernah sombong akan gemerlapnya kehidupan, jangan pernah sombong akan apa yang kita miliki, bertawadhu adalah hal terbaik daripada menyombongkan sesuatu yang pada hakikatnya tidak pernah kita miliki, serahkan semuanya kepada Sang Maha Pencipta, ALLAH SWT.


Minggu, 28 Oktober 2012

Menghormati Tetangga



Berbuat baik terhadap tetangga merupakan kewajiban, bahkan perhatian yang diberikan oleh Islam terhadap masalah tetangga, tidak pernah ditemui pada peradaban lain. Islam sangat memperhatikan hubungan sosial dalam lingkungan terdekat, seperti hubungan dengan tetangga.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah SAW, ditanya, “Siapa yang tidak sempurna imannya, Ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”  (HR. Bukhari)
Kriteria keimanan yang ditentukan Rasulullah SAW dalam hadis tersebut berkaitan erat dengan perilaku sosial. Semakin buruk perilaku seseorang terhadap tetangganya, maka semakin buruk pula derajat keimanannya. Rasulullah mengajarkan bahwa menghormati tetangga, merupakan bukti rasa hormat kepada Allah dan Rasulnya.
Dalam kehidupan terkadang  ada sekelompok orang yang terlihat rajin dalam mengerjakan ibadah-ibadah makhdoh (utama),  ditambah dengan ibadah-ibadah sunah, namun melupakan hubungan sosial dengan tetanga.
Mereka fokus terhadap hablu minallah tapi lalai dengan hablu min an-nass, fenomena seperti ini menimbulkan pertanyaan atas kualitas ibadah yang dilakukan, karena sejatinya ritualitas ibadah harus berjalan sejajar dengan pencegahan terhadap kemunkaran. Bisa jadi pada orang-orang seperti ini dalam hatinya masih terdapat perasaan-perasaan riya, sombong dan membangga-banggakan diri.
Allah SWT Berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An-Nisa: Ayat 36)
Banyak ayat dan hadis Rasulullah SAW yang bertemakan anjuran untuk menghormati tetangga, dan selalu dikaitkan dengan keimanan, padahal iman merupakan pokok ajaran Islam. Ini menandakan bahwa kualitas hidup bertetangga merupakan inti kualitas hidup seorang muslim.
Seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya. “Rasulullah menjawab, ia tidak baik, dan tempatnya adalah neraka.” Disebutkan kepada Nabi SAW, bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah kecuali secuil keju. Akan tetapi tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah SAW bersabda, “ Ia masuk surga.”
Manusia senantiasa hidup berdampingan satu sama lainnya. Hampir semuanya tinggal dekat dengan tetangganya, jika setiap tetangga menghormati tetangganya, dan setiap orang memuliakan niscaya akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang harmonis, penuh dengan persatuan.
Menciptakan persatuan dan persaudaraan sangat penting untuk menyingkirkan semua perasaan dendam dan dengki, saling memaafkan dan menghormati merupakan kunci hidup bahagia. Dimulai dari linggkungan terdekat, menciptakan dampak yang lebih luas terhadapa kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kamis, 11 Oktober 2012

Keteladanan Sang Imam



Oleh Ade Irfan Abdurahman
Dimuat pada Rubrik Hikmah Koran Republika. Jum'at 12 Oktober 2012

Di tengah malam yang gelap gulita, pada saat cahaya dari dalam rumah sudah padam, jalan mulai sepi, seorang hamba Allah berjalan dalam keheningan malam. Kedua matanya tanpa henti memperhatikan setiap rumah yang dilaluinya. Ia tak peduli, walau kakinya tersandung saat menahan berat beban yang ia panggul.

Sesekali, ia berhenti untuk sekadar menyimpan sebagian barang bawaannya di depan pintu rumah orang-orang miskin. Peristiwa ini berlangsung setiap malam selama bertahun-tahun.

Penduduk Madinah pun gempar, pasalnya saat pagi tiba, di depan rumah orang-orang miskin, selalu terdapat sekarung gandum. Hal ini terus terulang selama beberapa lama. Ketika persediaan gandum mereka sudah hampir habis, akan ditemukan lagi sekarung gandum yang baru. Yang membuat mereka heran adalah tidak seorang pun yang bisa mengetahui siapakah gerangan dermawan yang senantiasa mendatangi rumah mereka dan membagikan gandum. Rupanya sang dermawan sangat pintar menyembunyikan kedermawanannya. Dari sekian banyak penduduk, hanya seorang warga yang pernah mengetahui jati dirinya.
Namun, atas permintaan sang dermawan, warga inipun merahasiakannya dengan hati-hati.

Sampai suatu ketika, ada seorang imam dan ulama terkemuka wafat.
Warga heran, saat mereka akan memandikan sang imam. Sebab, mereka menemukan sejumlah bekas berwarna hitam di punggungnya. Setelah diselidiki, tanda hitam itu seperti bekas orang yang sering mengangkat beban di punggungnya. Ulama dan imam itu adalah Ali bin Zainal Abidin. Tak ingin berpolemik terlalu lama, akhirnya orang yang mengetahui sosok dan jati diri sang dermawan itu membuka rahasia. “Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan oleh Imam Ali bin Zainal Abidin ke rumah-rumah warga di Madinah pada malam hari,“ tuturnya membuka cerita yang dipendamnya selama bertahun-tahun.

Mengetahui hal itu, rasa haru dan kesedihan menyelimuti warga Madinah.
Selama bertahun-tahun, sang dermawan yang merahasiakan jati dirinya, kini telah terungkap setelah wafatnya. Mereka bersedih, bukan karena tidak akan mendapatkan lagi gandum untuk keluarga mereka, melainkan telah ditinggal pergi untuk menghadap Ilahi oleh sang ulama dan imam yang begitu peduli terhadap warganya.

Sang ulama tak peduli dengan sua sana dan gelapnya malam. Ia senantiasa memberikan sedekah untuk para fakir miskin. Ia juga tak peduli dengan segala pujian. Sebaliknya, ia menyembunyikan kedermawanannya agar terhindar dari sikap takabur, ujub, dan pamer (riya).
Sebab, hal-hal yang demikian itu dapat merusak nilai-nilai keikhlasan dan ketulusan. Semua dilakukannya karena Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Allah.“ (HR Baihaqi).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir 100 biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.“ (QS al-Baqarah: 261).