Jumat, 07 Desember 2012

Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan Modern




Didedikasikan untuk para guru di seluruh Indonesia…

Indonesia pernah memiliki sosok guru yang sangat berkompeten, beliau adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara, menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia, yang kini sosoknya menjadi bapak Pendidikan Nasional. Tokoh yang dikenal kritis dengan tulisannya Als ik een Nederlander was (Andai Aku Seorang Belanda) ini sangat berjasa dalam memberikan pendidikan kepada rakyat pribumi jelata dengan mendirikan taman siswa pada masa penjajahan Belanda.
Andai ki Hajar Dewantara masih hidup, saya mengira beliau akan sangat prihatin dan dilema melihat kondisi pendidikan saat ini, di satu sisi pemerintah membuat sistem pendidikan yang lebih modern, di sisi lain sistem tersebut tidak dibarengi dengan insfrastruktur pendidikan yang memadai. Mulai dari kondisi bangunan sekolah, hingga kualitas guru yang masih di bawah standar. Namun saya yakin andai Ki Hajar Dewantara masih hidup beliau pasti mempunyai solusi atas permasalahan ini.

Masalah Kualitas Guru
Pada tahun 2005 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang standar Nasioanal Pendidikan Pasal 29 menegaskan bahwa kualifikasi guru mulai jenjang PAUD-SLTA minimal DIV dan Sarjana S1. Namun hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan, terutama di daerah-daerah pelosok pedesaan.
Kualitas guru Indonesia, saat ini di sinyalir sangat memprihatinkan. Dari data Kementerian Pendidikan Nasional, secara umum kualitas dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai harapan. Hingga saat ini baru sekitar 51 persen berpendidikan S1 sedangkan sisanya belum berpendidikan S1.
Belum lagi masalah, di mana seorang guru yang menjadi “kutu loncat”, sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar menjadi tidak maksimal, bahkan terkesan asal dan hanya memenuhi kewajiban.
Ini tentunya bukan tanpa alasan, jumlah guru di Indonesia saat ini masih kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Idealnya, untuk menjaga kualitas pendidikan yang baik, guru di dalam satu kelas mengajar 25-30 orang, namun kelas yang ada sekarang bisa mencapai 50-60 orang perkelas.
Disisi lain distribusi gurupun masih belum merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia Pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah terpencil, faktanya masih sering terdengar adanya kekurangan guru dalam satu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah Fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh dari yang diharapkan.

Niteni, nirokake, nambahi
Ada pelajaran luar biasa dari ki Hajar Dewantara, yaitu konsep niteni, nirokake, dan nambahi, konsep ini setidaknya dapat diaplikasikan guna meningkatkan kualitas guru. Konsep ini sekilas mirip dengan konsep filsafat Kaizen ala Jepang yang berarti perubahan berkesinambungan, perubahan yang terus menerus menyempurnakan pencapaian-pencapaian yang diraih pada masa sebelum melalui proses amati, tiru, dan modifikasi.
Andai para guru di Indonesia menerapkan konsep seperti ini, dengan pengalaman dan peradaban kebudayaan bangsa yang sangat lama, tentu kita bisa banyak belajar dari sejarah. Jika Jepang saja bisa bangkit dengan filsafat Kaizen pasca tragedi hirosima dan nagasaki, tentu Indonesia yang sudah lama merdeka bisa lebih baik dari itu.
Kembali kepada konsep ki Hajar Dewantara, Niteni (mengamati) artinya kita harus sensitif dan jeli mengamati dan mempelajari apa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Seorang guru harus pandai menguasai tools dan metode yang akan diajarkan, mengamati murid baik secara intelektualitas, maupun psikis, sehingga guru juga berhak mengetahui bagaiman kondisi murid di luar sekolah dan mengkonsultasikannya dengan orang tua.  
 Langkah kedua Nirokake (menirukan) apa yang orang lain sudah sukses lakukan. Agar tidak selalu berada dibawah orang yang ditirukan, maka langkah ini harus diikuti nambahi, sebagai sebuah proses penyempurnaan, yang terus-menerus dilakukan. Setiap guru tentu memiliki pengalaman masing-masing dalam mendidik murid, ada yang sukses dan ada pula yang gagal melakukan pendekatan dengan baik.
Namun, yang paling penting diketahui oleh guru adalah bahwa kesuksesan itu dapat dipelajari, kesuksesan bukan bawaan, melainkan ada syarat-syarat tertentu agar dapat meraih kesuksesan dalam mengajar. Syarat tersebut dapat ditiru dan ditambahi sesuai dengan kondisi tempat anda mengajar.
Konsep ini juga dapat diterapkan guna meningkatkan minat guru untuk meneliti. Penelitian secara formalitas digunakan untuk memenuhi kewajiban melaksanakan UU RI Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dimana sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sertifikat pendidik diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan profesi pendidik dan lulus uji sertifikasi pendidik.
Namun jauh lebih penting daripada itu, penelitian merupakan standar dasar yang dapat menandai maju tidaknya pendidikan di sebuah negara, semakin banyak hasil penelitian yang ditemukan, akan semakin berkualitas juga kompetensi pendidikan yang dilaksanakan. Apalagi Indonesia disinyalir miskin penelitian, padahal ini sudah menjadi kewajiban para pendidik, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah jurnal ilmiah yang ada saat ini
Berdasarkan data, jumlah jurnal ilmiah nasional terakreditasi yang dimiliki Indonesia masih sangat rendah, ini terbukti bahwa dalam catatan LIPI, hingga saat ini, jumlah jurnal ilmiah (cetak) di Indonesia hanya sekitar 7.000 buah. Dari jumlah tersebut, hanya 4.000 jurnal yang masih terbit secara rutin, dan sedikitnya hanya 300 jurnal ilmiah nasional yang telah mendapatkan akreditasi LIPI.
Melalui ketiga konsep ini, Niteni, nirokake, nambahi, Ki Hajar Dewantara ingin menyampaikan akan pentingnya penelitian terhadap dunia pendidikan, mengamati, meniru, dan menambahkan itu merupakan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Tidak hanya menyampaikan materi yang sudah ada, melalui konsep ini seorang guru akan mendapatkan pengetahuan baru atas sebuah ilmu.
Ini sangat penting karen guru adalah faktor SDM sebagai pelaksanan fungsi yang sangat penting untuk kemajuan setiap lapisan masyarakat ( Jabatan Fungsional ). Profesi guru juga merupakan salah satu faktor pengerak perekonomian. Bahkan sebenarnya masa depan bangsa ini ditentukan oleh sejauh mana kualitas guru yang ada. Karena walau bagaimanapun gurulah yang membuat bibit-bibit baru untuk masa depan.
Sebuah masyarakat tidak mungkin dapat beroperasi tanpa adanya pendidikan yang telah diberikan seorang guru. Maka jagalah kualitas guru, laksakan kewajiban mulianya sebagai pengajar bangsa, dan penuhi hak-haknya. Semoga bangsa kita dapat menjadi bangsa pembelajar dan menjadi lebih baik.
*Penulis adalah peneliti di Salima Network Media and Books Consultant
  Pernah menjadi Guru Honorer di Mts Swasta di Kuningan.

Rabu, 05 Desember 2012

Kenikmatan Jihad



“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (Ali Imran: 169)”

Kondisi yang saat ini sedang melanda “Darul Jihad” Gaza, Palestina, terlihat sangat mengenaskan, perang antara tentara Zionis Israel dan Hamas, telah memporak-porandakan Gaza, tidak hanya Ahmad Al-Ja’bari selaku komandan Hamas yang syahid, melainkan beberapa warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan sipil turut pula menjadi korban kekezaman tentara zionis ini.
Andai serangan-serangan rudal-rudal zionis tersebut menyerang Indonesia, tentu bangsa ini akan porak-poranda, masyarakat akan dilanda gejolak mental yang luar biasa, dan akan banyak orang-orang yang stress karena ketidak siapannya menghadapi ujian maha dahsyat yang menghilangkan harta, keluarga, teman, dan jiwa.
Lalu bagaimana dengan warga Palestina…? Anak-anak mereka dididik dengan keteguhan iman, ketakwaan, dan kesiapan menjadi syuhada. Bagi mereka Syahid dalam medan jihad adalah cita-cita utama, mereka yakin bahwa syahid memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam, sejajar dengan para Nabi. Syahid adalah nikmat yang hanya Allah turunkan bagi orang-orang yang terpilih:

 “Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (An-Nisa: 69).

Lantas sekarang siapakah yang pantas bersedih? Mereka yang menjadi syuhada atau kita umat muslim Indonesia yang dalam keadaan aman, dan sudah terbebas dari penjajahan, sehingga hampir tertutup kesempatan untuk berjihad, karena masa penjajahan sudah kita lewati. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menyebutkan keutamaan Jihad fi Sabilillah. Dahulu, para sahabat, ulama dan salafus shalih berlomba-lomba menjemput syahid.

''Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Janji kebenaran dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Siapakah yang lebih menepati janjinya, daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan besar.'' (QS At-Taubah: 111).

Sekarang siapa yang tidak menginginkan jual beli yang hadiahnya adalah kemenangan besar berupa syurga. Jihad adalah puncak Islam. Banyak ayat Al-Quran yang menumbuhkan motivasi jihad. Sejak dahulu umat Muslimin sangat antusias mengikuti perjuangan dakwah dan jihad sebagai panggilan agama. mereka siap mengorbankan jiwa dan harta untuk menggapai rida dan surga.
Kematian bagi para syuhada bukanlah sebuah kematian biasa, secara fisik mereka memang terlihat tidak bernyawa, kehilangan kenikmatan dunia menuju kenikmatan yang lebih dahsyat, berada disisi Allah dan mendapatkan rezeki yang nikmatnya jauh lebih nikmat dari kehidupan dunia. Allah menyempurnakan nikmat kepada mereka dengan menggabungkan antara nikmat badan, dan nikmat ruhani, sehingga sempurnalah kenikmatan dan kebahagiaan mereka.
Namun jangan bersedih, Indonesia mungkin tidak dipilih sebagai “Darul Jihad”, namun masih ada kontribusi jihad harta, dan bantuan kemanusiaan yang dapat menyokong dan mempermudah perjuangan Palestina. Paling tidak meringankan beban mereka, dalam melaksanakan amanah jihad.