![]() |
| Sumber Fhoto: http://m.beritajogja.co.id |
Akhir-akhir ini pemberitaan Media
massa dipenuhi oleh berita-berita mengenai kelompok organisasi yang menamakan
dirinya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Menurut reportase BBC, ISIS
dibentuk pada April 2013 dan cikal bakalnya berasal dari al-Qaida di Irak (AQI)
(walaupun kemudian dibantah oleh al-Qaida). BBC menerangkan bahwa kelompok ini menjadi
kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun
kekuatan militer di Irak. BBC meyakini bahwa ISIS akan menjadi kelompok
jihadis yang paling berbahaya setelah al-Qaida.[1]
Masih bersumber dari
BBC, Organisasi ini
dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Dia diyakini lahir di Samarra, bagian utara
Baghdad, pada 1971 dan bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah
Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu. Pada
2010 dia menjadi pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu kelompok yang kemudian
menjadi ISIS.
Baghdadi dikenal sebagai komandan
perang dan ahli taktik, analis mengatakan hal itu yang membuat ISIS menjadi
menarik bagi para jihadis muda dibandigkan al-Qaeda, yang dipimpin oleh Ayman
al-Zawahiri, seorang teolog Islam. Prof Peter Neumann dari King's College
London memperkirakan sekitar 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan
kelompok ini. ISIS mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman,
dan negara Eropa lain, seperti AS, dunia Arab dan negara Kaukakus.
Masih menurut BBC, tujuan Isis adalah
mendirikan kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak. Untuk mewujudkannya, kelompok
ini bahkan sudah berhasil membangun kekuatan militer. Pada 2013 lalu, mereka
menguasai Kota Raqqa di Suriah - yang merupakan ibukota provinsi pertama yang
dikuasai pemberontak. Pada Juni 2014, ISIS juga menguasai Mosul, yang
mengejutkan dunia. AS mengatakan kejatuhan kota kedua terbesar di Irak
merupakan ancaman bagi wilayah tersebut.
Sumber dana ISIS menurut BBC berasal
dari individu kaya di negara-negara Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang
mendukung pertempuran melawan Presiden Bashar al-Assad. Saat ini, ISIS
disebutkan menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah,
yang dilaporkan menjual kembali pasokan minyak kepada pemerintah Suriah. ISIS
juga disebutkan menjual benda-benda antik dari situs bersejarah.
ISIS dan Indonesia
Apa hubungan ISIS dengan Indonesia?.
Jawaban pertanyaan ini akan menjelaskan bagaimana berita tentang ISIS kemudian
ramai di Media Massa dan menjadi buah bibir di masyarakat. Negara Republik Indonesia yang mayoritas
penduduknya beragama Islam ternyata menjadi salah satu target kaderisasi ISIS,
dalam salah satu video yang di upload di youtube berjudul Joint The
Rank from The Islamic State yang diunggah oleh Jihadology pada tanggal 23
Juli 2014 (video tersebut
sekarang sudah di blokir). Seorang Pria didampingi beberapa orang
rekannya dengan berapi-api mengajak warga negara Indonesia untuk ber-baiat dan
memberikan dukungan kepada Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Kemunculan
video tersebut disambut dengan reaksi yang berbeda, sebagian masyarakat ada
yang mendukung sampai melakukan aksi demonstrasi, sebagian lainnya menolak dan
mencibir. Reaksi berupa penolaka keras datang dari pemerintah Indonesia, hal
tersebut di sampaikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
(Menko polhukam) Djoko Suyanto menyatakan Indonesia resmi menolak paham ISIS
karena dianggap bertentangan dengan Pancasila.
"Pemerintah
tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia. Setiap upaya
pengembangbiakan paham ISIS harus dicegah, Indonesia tidak boleh jadi tempat
persemaian," tegas Djoko di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara,
Jakarta, Senin (4/8/2014).[2]
Penolakan tersebut disampaikan Djoko
Suyanto setelah melakukan rapat terbatas yang dipimpin SBY pada senin
siang (4/8/2014). Dampak dari penolakan ini adalah penghapusan video
ajakan untuk bergabung menjadi anggota Islamic State in Irak and Syiria (ISIS)
yang beredar di situs YouTube oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi
(Kemenkominfo). Begitu juga dengan BNPT yang
langsung memasukan ISIS kedalam kategori kelompok teroris dan
menyatakan bahwa warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS terlibat
aksi teror, melanggar hukum, dan akan dicabut kewarganegaraannya.[3]
Kritik terhadap Isis
Kritik terhadap ISIS juga
datang dari ulama, Imam Besar Masjid Istiqlal, Musthofa Ali Yakub, menilai
kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) terlahir bukan dari
rahim Islam, kendati kelompok ini mendengungkan label Islam dalam
perkembangannya. Seperti yang di kutip Okezone.com Musthofa memaparkan dua
alasan untuk memperkuat pendapatnya, yaitu:[4]
Pertama, ajaran atau
cara-cara kelompok ini berlawanan dengan ajaran Islam. Misalnya, dalam
penggunaan stempel Rasulullah dalam bendera ISIS, dimana ada tulisan berbentuk
bulatan dibagian atasnya ada tulisan Allah dan dibawahnya Muhammad, maka bila
dibaca dari bawah itu Muhamad Rasulullah. Stempel Rasulullah ini digunakan
Rasul untuk mengirim surat ke penguasa, karena surat tidak dibaca kalau tidak
ada stempel. Tidak ada satupun umat Islam yang berani memakai stempel ini untuk
apapun. Tapi kenyataannya ISIS menggunakan itu untuk stempel mereka.
Kedua, pembunuhan baik
itu kepada muslim dan non muslim, terutama terhadap orang yang bukan
kelompoknya itu sangat jelas bukanlah ajaran Islam. Mustofa menontohkan kabar
yang menyebutkan ISIS membunuh orang non muslim di Armenia. Padahal menurutnya
Islam tidak pernah mengajarkan membunuh orang muslim dan non muslim karena
perbedaan.
Tidak hanya pemerintah Indonesia dan ulama
Indonesia, Kritik terhadap ISIS juga datang dari kelompok Islam International.
Salah satunya adalah Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS), yang dipimpin oleh
Syaikh Yusuf Qaradhawi, Sepertei yang dikutip dakwatuna IUMS mengeluarkan
pernyataan terkait deklarasi khilafah islamiyah yang dilakukan oleh organisasi ISIS.
·
Pertama, IUMS menekankan bahwa deklarasi khilafah yang
dilakukan ISIS untuk wilayah cukup luas di Irak dan Suriah tidak sah secara
syariah Islam dan juga tidak membantu proyek kejayaan Islam.
·
Kedua, khilafah versi ISIS menurut Qardhawi tidak
didasarkan pada manhaj Nabi saw. dan syura.
·
Ketiga, Khilafah versi ISIS mengakibatkan banyak bahaya
kepada Sunni di Irak dan juga kepada revolusi di Suriah.
·
Keempat, ISIS dianggap kurang menguasai fiqh waqi’
(memahami realitas), sehingga bahkan terkesan meruntuhkan revolusi rakyat yang
dilakukan oleh suku-suku Sunni dan kelompok-kelompok revolusi yang lain di
Irak.
Akibatnya, menurut IUMS, setelah deklarasi
khilafah dan mengangkat seorang khalifah, ISIS melanjutkannya dengan menuntut
umat Islam seluruh dunia untuk tunduk dan taat kepadanya, ini dilakukan tanpa
standar syariah dan realitas. Bahkan sisi bahayanya lebih besar daripada sisi
manfaatnya. Menurut Qardhawi, Tidak mungkin semua organisasi perjuangan di
seluruh dunia Islam dianggap ilegal dan tidak sah begitu ada deklarasi sepihak
yang kemudian menamakan dirinya sebagai khilafah. Padahal saat itu umat Islam
tidak disertakan sama sekali. Apalagi banyak orang jadi mempunyai kesan tentang
khilafah sebagai sebuah sikap yang keras. Hal itu ketika khilafah dihubungkan dengan
ISIS. Umat Islam akan merekam negatif segala yang terkait dengan khilafah.
Sehingga deklarasi ini pun bisa dikatakan tidak mendukung proyek kejayaan
Islam. Wallahu’alam
[1] http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/07/140725_profil_isis.shtml
[2] http://news.okezone.com/read/2014/08/05/337/1019978/pemerintah-larang-isis-berkembang-di-indonesia
[3] http://www.tempo.co/read/news/2014/08/04/078596979/BNPT-ISIS-Bisa-Jadi-Gerakan-Makar
[4] http://news.okezone.com/read/2014/08/06/337/1020859/imam-besar-istiqlal-isis-dilahirkan-bukan-dari-rahim-islam
