Kamis, 28 Maret 2013

Dibalik Retorika "Soekarno Muda"



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sepertinya berhasil mengubah cobaan dan musibah menjadi rahmat dan karunia. Bagaimana tidak, ditengah kencangnya badai yang sedang menimpa partai berlambang bulan sabit ini, mereka justru memenangi dua pilkada, di dua provinsi dengan penduduk terbesar, yaitu Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Berbeda dengan Partai Demokrat yang suara calonnya terjun bebas pasca ditetapkannya Ketua Umum Anas Urbaningrum sebagai tersangka, PKS justru berhasil menjaga kepercayaan pemilihnya, dan menjaga soliditas mesin partainya sehingga mencapai target yang maksimal. Mereka berhasil keluar dari dampak kasus hukum yang menjerat mantan presiden mereka Lutfi Hasan Ishaq dan menjungkirbalikan prediksi pengamat.
Ada seorang sosok yang menjadi perhatian masyarakat dan media yang dianggap mempunyai andil besar dibalik keberhasilan PKS di dua provinsi tersebut, sosok itu adalah Anis Matta. Bagaimana tidak hanya dalam waktu singkat seorang Presiden PKS pengganti Lutfhi Hasan Ishaq ini mampu memotivasi dan menjaga kepercayaan diri kader partai untuk keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi, sehingga bisa tetap bekerja dan fokus terhadap masa depan.

Retorika “Soekarno Muda”
Anis Matta menjadi sosok yang paling berjasa dalam mendongkrak optimisme kader. Dalam pidato pertama saat diumumkan penjadi pengganti LHI, Anis memilih kata-kata tepat yang mampu menjaga soliditas dan kepercayaan kader. Kata-kata seperti memohon pertolongan pada Allah SWT, cinta, ukhuwah, persaudaraan, soliditas, konspirasi, taubat dan macan tidur mampu membius kader-kader PKS dan simpatisan untuk tetap loyal kepada partai yang lahir pada masa transisi reformasi ini.
Kasus korupsi yang pertama kali dalam sejarah partai dakwah ini, memang tidak tanggung-tanggung, langsung menimpa presidennya. Walaupun menjadi aib yang berpotensi menyebabkan loyalitas kader menurun atau bahkan loncat kepartai lain. Justru oleh Anis Matta dijadikan momentum untuk konsolidasi dan merapatkan barisan. Retorika pidato Anis Matta saat pertama kali dipilih menjadi presiden tampaknya mampu menyentuh sisi emosial kader, simpatisan, bahkah masyarakat untuk lebih mencintai partai ini.   
Kecintaan kader tersebut terbukti dengan julukan “Soekarno Muda” yang diberikan oleh kader-kader PKS kepadanya. Anis dianggap sebagai sosok yang pandai beretorika, cerdas, dapat dipercaya, mampu memilih kata-kata yang tepat dan menyentuh hati. Masih jauh memang untuk mensejajarkan Anis Matta dengan Soekarno, namun gelar tersebut merupakan sebuah penghargaan terhadap cara retorika Anis Matta.
Sepertinya oleh khalayak, Anis Matta dianggap memiliki tiga sumber kredibilitas yang baik dalam retorika yang dapat menumbuhkan kepercayaan publik. Aristotles dalam Rethoric, menyebutkan tiga sumber kredibilitas yang baik yaitu intelligence, character, dan goodwill.

3 Sumber Kredibilitas Anis Matta
 Ketiga sumber kredibilitas yang dimaksud diatas adalah: Pertama; Intelligence atau kecerdasan. Dimana orator memiliki kebijaksanaan dan kemampuan dalam berbagi nilai atau kepercayaan dengan khalayaknya.
Sebagai mantan Sekjend partai yang sudah empat periode menjabat, Anis tentunya mengerti betul kriteria khalayak yang sedang dihadapinya. Kader dan simpatisan PKS yang mayoritas peduli terhadap isu-isu zionisme, propaganda Amerika, serta ketidaksenangan barat terhadap perkembangan syariat Islam. Maka Anis dengan cerdas memakai kata “konspirasi” dalam pidato perdananya.
Kata “konspirasi” menjadi sangat penting, karena seolah-olah proses hukum yang sedang dialami LHI bukanlah murni perkara korupsi. Dengan menggunakan kata “konspirasi” Anis ingin membingkai bahwa LHI dijebak oleh sebuah kekuatan besar yang menjadikan KPK sebagai “alat” politik.  Dibalik ada atau tidaknya kospirasi, Anis terbukti mampu menyesuaikan diri dengan cara berpikir khalayaknya, untuk kemudian disesuaikan dengan cara berpikirnya.
Sumber kedua adalah Character. Karakter lebih kepada citra orator sebagai orang yang baik dan orang yang jujur. Jika seorang orator mampu memiliki citra sebagai orang yang baik dan jujur, apapun kata-kata yang disampaikan dalam orasinya maka khalayak cenderung lebih mudah untuk percaya. Itulah yang terjadi pada Anis Matta.
Perlu diketahui dimata kader, Anis Matta merupakan sosok yang cukup disegani. Anis tidak hanya dikenal sebagai politisi, namun Anis juga dikenal sebagai seorang penulis yang banyak menghasilkan karya-karya yang menjadi rujukan kader-kader PKS. Temanya mulai yang bertema "serius" hingga cinta. Tidak hanya kader, karya “Soekarno Muda” ini juga banyak diminati oleh banyak orang diluar kader PKS.
Jadi citra Anis Matta sebagai orang yang baik, jujur, dan cerdas, tidak hanya terlihat dari kinerjanya sebagai seorang politisi. Citra Anis Matta sudah terbentuk dari karya-karyanya yang menggugah dan diminati masyarakat. Beberapa buku yang ditulis Anis Matta yaitu Model Manusia Muslim Abad XXI, Menikmati Demokrasi, Membentuk Karakter Cara Islam, Dari Gerakan ke Negara, Mencari Pahlawan Indonesia,  Dialog Peradaban yang ditelus bersama Ary Ginanjar, Delapan Mata Air Kecemerlangan, Serial Cinta dan masih banyak lagi.
Sumber kredibilitas Ketiga adalah Good will atau niat baik, ini merupakan penilaian positif yang coba ditularkan oleh orator kepada khalayaknya. Anis Matta mungkin mampu memperlihatkan kecerdasannya, menunjukkan karakter kepribadiannya yang baik, akan tetapi belum tentu mampu ‘menyentuh hati’ khalayaknya.
Sebagai seorang motivator, pembelajar sastra, dan penulis tentu tidak sulit bagi Anis Matta untuk menyentuh hati khalayak, kata-kata seperti “saya mencintai” yang disampaikan untuk LHI, pengurus partai, dan kader menjadi bagian cara menyentuh hati khalayak. Kalimat Istigfar dipilih sebagai ungkapan bahwa PKS hanyalah kumpulan manusia yang bisa saja berbuat salah, dibalik tudingan adanya konspirasi besar, Anis membingkai Taubatan nasional sebagai bentuk perbaikan dan memulai kebangkitan.
Dibalik gelar “Soekarno Muda” yang disematkan kepada Anis Matta, yang jelas Retorika Anis Matta memang berhasil memompa semangat baru kader-kader PKS sehingga mampu melupakan masa lalu, serta fokus terhadap masalah dan kerja-kerja yang sedang dihadapi.

Sabtu, 02 Maret 2013

Dua Syarat Agar Dicintai Allah dan Manusia



وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اَللَّهُ وَأَحَبَّنِي اَلنَّاسُ. فـقَالَ: اِزْهَدْ فِي اَلدُّنْيَا يُحِبُّكَ اَللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ اَلنَّاسِ يُحِبُّكَ اَلنَّاسُ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَسَنَدُهُ حَسَنٌ
Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seseorang menghadap Nabi SAW. dan berkata: Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang bila aku melakukannya aku disukai Allah dan manusia. Beliau bersabda: Zuhudlah dari dunia, Allah akan mencintaimu dan Zuhudlah dari apa yang dimiliki manusia, mereka akan mencintaimu. (Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Hadits diatas secara gamblang menjelaskan dua syarat agar manusia dicintai oleh Allah dan sesama manusia. Kedua syarat ini sudah dibuktikan mulai dari Rasulullah, Para Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah emas kebangkitan Islam.

1.      Syarat Pertama adalah Zuhud dari Dunia

Pertama, kita akan membahas definisi zuhud. Secara bahasa kata zuhud berasal dari bahasa Arab زَهَدَ  - يَزْهَدُ -زُهْدً  berarti “meninggalkan” . Orang yang zuhud disebut Zahid.
Secara harfiah, zuhud berarti meninggalkan sesuatu yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan dunia yang bersifat material.
Al-Qur’an menggambarkan seorang zahid lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi daripada mengejar kehidupan dunia yang fana.
Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat berikut:

 “Katakanlah: Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” ( Q.S. An-Nisa 4 : 77 ).

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang hanya sementara tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia. Lebih lanjut Allah berfirman, “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” ( QS. Al-A’la 87 : 17 ).
Seorang zahid bukan berarti meninggalkan dunia secara total, mereka menjadikan dunia sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah untuk mengelola kehidupan dengan baik, mereka tidak diperbudak dunia, tapi dunialah yang mereka manfaatkan untuk mencari keridhaan Allah sebanyak-banyaknya. Inilah hakikat zuhud.
Perhatikan ayat berikut:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu  ( kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” ( Q.S. Al Qashash 28 :77 )

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kebahagiaan akhirat adalah anugrah yang akan diberikan kepada orang-orang yang mencarinya. Namun kenikmatan dunia juga merupakan bagian dari Anugrah Allah SWT yang memang pantas dinikmati selama masih dalam koridor yang ditentukan olehNya. Koridor itu adalah; tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

2.      Rahasia Kedua adalah Zuhud dari apa yang Dimiliki Manusia, Mereka akan Mencintaimu.

Manusia berbondong-bondong mencari kesenangan hidup untuk dinikmati, berbagai cara dilakukan untuk menggapai apa yang diinginkan. Baik dengan cara yang halal maupun dengan cara yang haram.
Perebutan terhadap kesenangan dunia terkadang menimbulkan petaka. Permusuhan, perkelahian, peperangan, penjajahan, kerap terjadi karena sekelompok manusia menginginkan apa yang menjadi milik orang lain.
Perhatikan bagaimana perang dunia dan penjajahan utamanya disebabkan karena perebutan gold dan glory dengan melakukan penindasan terhadap peradaban dan kaum yang lemah. Dan itu tentunya harus dihindari, masa depan harus bisa belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu.
Kembali kepersoalaan.. jika kemudian perebutan akan harta, kejayaan menyebabkan permusuhan. Maka menghindari tentunya akan menyebabkan manusia hidup dalam kententraman.
Menghindari disini bukan dalam konteks tidak boleh memilikinya sama sekali, karena setiap manusia memang dihiasi kecintaan terhadap harta. 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Ali Imran: 14”

Maksud dari menghindari disini adalah memiliki secukupnya saja dan tidak berusaha mengejar apa yang sudah dimiliki orang lain, tidak mengejar-ngejar apa yang menjadi hak orang lain.  
Merujuk beberapa penjelasan tadi, singkatnya dapat disimpulkan bahwa orang yang akan mendapat cinta Allah dan sesama manusia adalah orang yang zuhud dimana ia mengutamakan kehidupan akhirat dan mereka tidak berlebihan dalam mengejar kehidupan dunia, sehingga terjadi keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.