Minggu, 28 Oktober 2012

Menghormati Tetangga



Berbuat baik terhadap tetangga merupakan kewajiban, bahkan perhatian yang diberikan oleh Islam terhadap masalah tetangga, tidak pernah ditemui pada peradaban lain. Islam sangat memperhatikan hubungan sosial dalam lingkungan terdekat, seperti hubungan dengan tetangga.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah SAW, ditanya, “Siapa yang tidak sempurna imannya, Ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”  (HR. Bukhari)
Kriteria keimanan yang ditentukan Rasulullah SAW dalam hadis tersebut berkaitan erat dengan perilaku sosial. Semakin buruk perilaku seseorang terhadap tetangganya, maka semakin buruk pula derajat keimanannya. Rasulullah mengajarkan bahwa menghormati tetangga, merupakan bukti rasa hormat kepada Allah dan Rasulnya.
Dalam kehidupan terkadang  ada sekelompok orang yang terlihat rajin dalam mengerjakan ibadah-ibadah makhdoh (utama),  ditambah dengan ibadah-ibadah sunah, namun melupakan hubungan sosial dengan tetanga.
Mereka fokus terhadap hablu minallah tapi lalai dengan hablu min an-nass, fenomena seperti ini menimbulkan pertanyaan atas kualitas ibadah yang dilakukan, karena sejatinya ritualitas ibadah harus berjalan sejajar dengan pencegahan terhadap kemunkaran. Bisa jadi pada orang-orang seperti ini dalam hatinya masih terdapat perasaan-perasaan riya, sombong dan membangga-banggakan diri.
Allah SWT Berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An-Nisa: Ayat 36)
Banyak ayat dan hadis Rasulullah SAW yang bertemakan anjuran untuk menghormati tetangga, dan selalu dikaitkan dengan keimanan, padahal iman merupakan pokok ajaran Islam. Ini menandakan bahwa kualitas hidup bertetangga merupakan inti kualitas hidup seorang muslim.
Seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya. “Rasulullah menjawab, ia tidak baik, dan tempatnya adalah neraka.” Disebutkan kepada Nabi SAW, bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah kecuali secuil keju. Akan tetapi tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah SAW bersabda, “ Ia masuk surga.”
Manusia senantiasa hidup berdampingan satu sama lainnya. Hampir semuanya tinggal dekat dengan tetangganya, jika setiap tetangga menghormati tetangganya, dan setiap orang memuliakan niscaya akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang harmonis, penuh dengan persatuan.
Menciptakan persatuan dan persaudaraan sangat penting untuk menyingkirkan semua perasaan dendam dan dengki, saling memaafkan dan menghormati merupakan kunci hidup bahagia. Dimulai dari linggkungan terdekat, menciptakan dampak yang lebih luas terhadapa kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar