Berbuat baik terhadap tetangga
merupakan kewajiban, bahkan perhatian yang diberikan oleh Islam terhadap
masalah tetangga, tidak pernah ditemui pada peradaban lain. Islam sangat
memperhatikan hubungan sosial dalam lingkungan terdekat, seperti hubungan
dengan tetangga.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi
Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi Allah, tidak sempurna imannya.” “Demi
Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah SAW, ditanya, “Siapa yang tidak
sempurna imannya, Ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Seseorang yang
tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari)
Kriteria keimanan yang ditentukan
Rasulullah SAW dalam hadis tersebut berkaitan erat dengan perilaku sosial.
Semakin buruk perilaku seseorang terhadap tetangganya, maka semakin buruk pula
derajat keimanannya. Rasulullah mengajarkan bahwa menghormati tetangga, merupakan
bukti rasa hormat kepada Allah dan Rasulnya.
Dalam kehidupan terkadang ada sekelompok orang yang terlihat rajin
dalam mengerjakan ibadah-ibadah makhdoh (utama), ditambah dengan ibadah-ibadah sunah, namun
melupakan hubungan sosial dengan tetanga.
Mereka fokus terhadap hablu
minallah tapi lalai dengan hablu min an-nass, fenomena seperti ini
menimbulkan pertanyaan atas kualitas ibadah yang dilakukan, karena sejatinya
ritualitas ibadah harus berjalan sejajar dengan pencegahan terhadap kemunkaran.
Bisa jadi pada orang-orang seperti ini dalam hatinya masih terdapat perasaan-perasaan
riya, sombong dan membangga-banggakan diri.
Allah SWT Berfirman: Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu
sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri. (An-Nisa: Ayat 36)
Banyak ayat dan hadis Rasulullah
SAW yang bertemakan anjuran untuk menghormati tetangga, dan selalu dikaitkan
dengan keimanan, padahal iman merupakan pokok ajaran Islam. Ini menandakan
bahwa kualitas hidup bertetangga merupakan inti kualitas hidup seorang muslim.
Seseorang berkata kepada
Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang
harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya. “Rasulullah menjawab, ia
tidak baik, dan tempatnya adalah neraka.” Disebutkan kepada Nabi SAW, bahwa
Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah
kecuali secuil keju. Akan tetapi tidak pernah menyakiti tetangganya.”
Rasulullah SAW bersabda, “ Ia masuk surga.”
Manusia senantiasa hidup
berdampingan satu sama lainnya. Hampir semuanya tinggal dekat dengan
tetangganya, jika setiap tetangga menghormati tetangganya, dan setiap orang
memuliakan niscaya akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang harmonis, penuh
dengan persatuan.
Menciptakan persatuan dan
persaudaraan sangat penting untuk menyingkirkan semua perasaan dendam dan
dengki, saling memaafkan dan menghormati merupakan kunci hidup bahagia. Dimulai
dari linggkungan terdekat, menciptakan dampak yang lebih luas terhadapa
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar