Minggu, 30 September 2012

Politik "Ndeso" Ala Jokowi



Euforia kemenangan pasangan Jokowi-Ahok pada Pilkada putaran kedua DKI kamis 20 September 2012 kemarin hingga saat ini masih terasa, pasangan sejak awal memang di prediksi sebagai penantang terberat incumbent. Putaran pertama mereka mampu menang diatas pasangan foke-nara dan akhirnya masuk putaran kedua, padahal beberapa survei sebelumnya, menempatkan Pasangan no.1 (Foke-Nara) sebagai pasangan teratas.
Memang kemenangan Jokowi-Ahok masih belum resmi diumumkan KPUD DKI Jakarta namun perbedaan margin yang lebar dari hasil quick count beberapa lembaga, tentunya sangat sulit mengharapkan adanya “keajaiban” pada pengumuman resmi KPUD nanti, dengan demikian tanpa mengesampingkan pengumuman resmi KPUD, kemenangan pasangan Jokowi-Ahok sudah dapat dipastikan. 
Ada yang menarik dari kemenangan pasangan no 3 ini, terutama dari sisi strategi marketing politik yang digunakan untuk memenangkan pilkada DKI. Jika pada pemilihan presiden tahun 2009 tahun lalu kita mengenal politik pencitraan yang berhasil mengantar pasangan incumbent SBY-Boediono sebagai pemenang RI 1, maka dalam  pilkada DKI ini politik “Ndeso” berhasil mengantarkan pasangan Jokowi-Ahok menjadi pemenang pilgub DKI.
“Ndeso” bukan berarti ketingalan zaman, “ndeso” justru menampilkan kesederhanaan, dekat dengan warga, bahkan berusaha menjadi bagian dari mereka. Bandingkan dengan politik “elit” ala Foke yang menampilakan kecerdasan, kekayaan, dan power, tapi terlihat berjarak dengan masyarakat.

Membangun Realitas “Ndeso”
Dalam upaya menarik hati seseorang, anda tentu harus ikut larut dalam sisi emosinal orang yang akan anda dekati agar dia bisa menerima anda apa adanya.  Ada sebuah istilah “Jika ingin dimengerti orang lain, maka cobalah untuk mengerti orang lain terlebih dahulu”. Pepatah ini sepertinya disadari betul oleh pasangan Jokowi-Ahok dalam merebut kursi DKI 1.
Jika pada beberapa pemilu, seorang calon biasanya identik dengan pengawal, mobil mewah,  penampilan elegan, dan terkesan kharismatik. Kesan itu seolah-olah hilang dari pasangan no 3, terutama sosok Jokowi.
Bukannya berpenampilan elegan atau didampingi pengawal, Jokowi justru berpenampilan sederhana dengan baju kotak-kotak khasnya dan terjun langsung ngobrol, dengan warga DKI, makan di warteg, naik ojeg, naik busway, dan kereta api listrik menjadi strategi jitu pasangan ini dalam mendapatkan hati warga DKI. Dalam usahanya tersebut seolah-olah Jokowi ingin menyampaikan bahwa “ya sayapun hidup seperti kalian”.
Kesederhanaan ini tampaknya menjadi senjata ampuh Jokowi dalam merebut simpatik warga,  tanpa berniat mengesampingkan sosok Ahok, Jokowi memang paling berpengaruh dalam mendapatkan suara masyarakat.

Citra yang Terkonstruksi
Citra “Ndeso” ala Jokowi, tentunya  tidak datang begitu saja, citra kesederhanaan Jokowi sudah lama dikonstruksi oleh media massa. Peter L Berger dan Thomas Luckmann mengatakan bahwa “reality is socially constructed and that the sociology of knowledge must analyse the process in which this occurs” realitas dikonstruksi secara sosial dan bahwa sosiologi pengetahuan harus menganalisis proses di mana hal ini terjadi.
Dengan demikian citra sederhana Jokowi tidak hadir begitu saja melainkan dikonstruksi secara terus menerus oleh media massa sehingga opini publik menilai Jokowi dengan positif. Sejak keberhasilanya merelokasi pedagang kaki lima dengan cara unik dan tanpa konflik, juga setelah memperkenalkan mobil Esemka kepada publik, Jokowi terus menjadi perhatian media.
Mediapun dengan leluasa mengkonstruksi Jokowi sebagai pemimpin yang prorakyat. Seringnya jokowi turun kelapangan dan cara komunikasi politiknya yang terkenal “ndeso” justru membuat jokowi makin dicintai warganya, bahkan membuat “iri”  warga daerah-daerah lain, dan tampaknya termasuk warga DKI Jakarta.
Saat itulah sebetulnya (walaupun belum mencalonkan diri sebagai gubernur DKI), Jokowi sudah satu langkah lebih maju dibandingkan Foke, apalagi di saat yang sama sang “Ahli” justru sedang diserang dengan isu-isu kegagalan dalam pemerintahan, ditambah dengan kasus mundurnya prijanto sebagai wakil gubernur DKI.
Sejak resmi mencalonkan diri sebagai gubernur DKI, media massa menjadi motor utama kampanye citra Jokowi, apapun aktivitas jokowi selalu menjadi berita-berita menarik bagi media, dan tampaknya tim Jokowi menyadari hal tersebut sebagai peluang. Maka, sangat wajar jika saat itu Jokowi menyebutkan enggan memakai spanduk, famlet dan selebaran-selebaran yang dianggap mengotori lingkungan, karena mereka memang fokus dan menang dalam serangan “udara” lagi-lagi Jokowi lebih maju satu langkah.
Jokowi berhasil merubah image sederhana, wong ndeso, dan lugu menjadi sesuatu yang layak jual dan diterima masyarakat. Tentu hal ini menjadi strategi marketing politik yang layak mendapat porsi yang baik dalam proses transisi demokrasi.
Permasalahan utama muncul disaat lebih dari 70% partai politik justru menjadi oposisi. Tentunya hal ini akan mempersulit langkah Jokowi dalam upaya pengambilan kebijakan di parlemen. Multi partai ekstrem memang masih menjadi kenda bagi eksekutif dalam menjalankan pemerintahan.
Untuk itu,komunikasi politik yang baik harus menjadi modal utama Jokowi dalam menjalankan pemerintahan, pendekatan terhadap partai politik sangat diperlukan, namun kesejahterakan rakyat harus jadi prioritas. Semoga citra “ndeso” Jokowi bukanlah kamuflase belaka, melainkan sebuah realitas.