Euforia
kemenangan pasangan Jokowi-Ahok pada Pilkada putaran kedua DKI kamis 20
September 2012 kemarin hingga saat ini masih terasa, pasangan sejak awal memang
di prediksi sebagai penantang terberat incumbent. Putaran pertama mereka
mampu menang diatas pasangan foke-nara dan akhirnya masuk putaran kedua,
padahal beberapa survei sebelumnya, menempatkan Pasangan no.1 (Foke-Nara)
sebagai pasangan teratas.
Memang
kemenangan Jokowi-Ahok masih belum resmi diumumkan KPUD DKI Jakarta namun
perbedaan margin yang lebar dari hasil quick count beberapa lembaga,
tentunya sangat sulit mengharapkan adanya “keajaiban” pada pengumuman resmi
KPUD nanti, dengan demikian tanpa mengesampingkan pengumuman resmi KPUD,
kemenangan pasangan Jokowi-Ahok sudah dapat dipastikan.
Ada yang
menarik dari kemenangan pasangan no 3 ini, terutama dari sisi strategi
marketing politik yang digunakan untuk memenangkan pilkada DKI. Jika pada
pemilihan presiden tahun 2009 tahun lalu kita mengenal politik pencitraan yang
berhasil mengantar pasangan incumbent SBY-Boediono sebagai pemenang RI 1,
maka dalam pilkada DKI ini politik “Ndeso”
berhasil mengantarkan pasangan Jokowi-Ahok menjadi pemenang pilgub DKI.
“Ndeso” bukan
berarti ketingalan zaman, “ndeso” justru menampilkan kesederhanaan, dekat
dengan warga, bahkan berusaha menjadi bagian dari mereka. Bandingkan dengan
politik “elit” ala Foke yang menampilakan kecerdasan, kekayaan, dan power, tapi
terlihat berjarak dengan masyarakat.
Membangun Realitas “Ndeso”
Dalam upaya
menarik hati seseorang, anda tentu harus ikut larut dalam sisi emosinal orang
yang akan anda dekati agar dia bisa menerima anda apa adanya. Ada sebuah istilah “Jika ingin dimengerti
orang lain, maka cobalah untuk mengerti orang lain terlebih dahulu”.
Pepatah ini sepertinya disadari betul oleh pasangan Jokowi-Ahok dalam merebut
kursi DKI 1.
Jika pada beberapa
pemilu, seorang calon biasanya identik dengan pengawal, mobil mewah, penampilan elegan, dan terkesan kharismatik.
Kesan itu seolah-olah hilang dari pasangan no 3, terutama sosok Jokowi.
Bukannya berpenampilan
elegan atau didampingi pengawal, Jokowi justru berpenampilan sederhana dengan
baju kotak-kotak khasnya dan terjun langsung ngobrol, dengan warga DKI, makan
di warteg, naik ojeg, naik busway, dan kereta api listrik menjadi strategi jitu
pasangan ini dalam mendapatkan hati warga DKI. Dalam usahanya tersebut
seolah-olah Jokowi ingin menyampaikan bahwa “ya sayapun hidup seperti kalian”.
Kesederhanaan
ini tampaknya menjadi senjata ampuh Jokowi dalam merebut simpatik warga, tanpa berniat mengesampingkan sosok Ahok, Jokowi memang paling
berpengaruh dalam mendapatkan suara masyarakat.
Citra yang Terkonstruksi
Citra “Ndeso” ala
Jokowi, tentunya tidak datang
begitu saja, citra kesederhanaan Jokowi sudah lama dikonstruksi oleh media
massa. Peter L Berger dan Thomas Luckmann mengatakan bahwa “reality is socially constructed
and that the sociology of knowledge must analyse the process in which this
occurs” realitas dikonstruksi secara sosial dan
bahwa sosiologi pengetahuan
harus menganalisis proses di mana
hal ini terjadi.
Dengan demikian
citra sederhana Jokowi tidak hadir begitu saja melainkan dikonstruksi secara
terus menerus oleh media massa sehingga opini publik menilai Jokowi dengan
positif. Sejak
keberhasilanya merelokasi pedagang kaki lima dengan cara unik dan tanpa konflik,
juga setelah memperkenalkan mobil Esemka kepada publik, Jokowi terus menjadi
perhatian media.
Mediapun dengan leluasa mengkonstruksi Jokowi sebagai
pemimpin yang prorakyat. Seringnya jokowi turun kelapangan dan cara komunikasi
politiknya yang terkenal “ndeso” justru membuat jokowi makin dicintai warganya,
bahkan membuat “iri” warga daerah-daerah
lain, dan tampaknya termasuk warga DKI Jakarta.
Saat itulah sebetulnya (walaupun belum mencalonkan diri
sebagai gubernur DKI), Jokowi sudah satu langkah lebih maju dibandingkan Foke,
apalagi di saat yang sama sang “Ahli” justru sedang diserang dengan isu-isu kegagalan
dalam pemerintahan, ditambah dengan kasus mundurnya prijanto sebagai wakil
gubernur DKI.
Sejak resmi mencalonkan diri sebagai gubernur DKI, media
massa menjadi motor utama kampanye citra Jokowi, apapun aktivitas jokowi selalu
menjadi berita-berita menarik bagi media, dan tampaknya tim Jokowi menyadari
hal tersebut sebagai peluang. Maka, sangat wajar jika saat itu Jokowi
menyebutkan enggan memakai spanduk, famlet dan selebaran-selebaran yang
dianggap mengotori lingkungan, karena mereka memang fokus dan menang dalam
serangan “udara” lagi-lagi Jokowi lebih maju satu langkah.
Jokowi berhasil merubah image sederhana, wong ndeso, dan
lugu menjadi sesuatu yang layak jual dan diterima masyarakat. Tentu hal ini
menjadi strategi marketing politik yang layak mendapat porsi yang baik dalam
proses transisi demokrasi.
Permasalahan utama muncul disaat lebih dari 70% partai
politik justru menjadi oposisi. Tentunya hal ini akan mempersulit langkah
Jokowi dalam upaya pengambilan kebijakan di parlemen. Multi partai ekstrem
memang masih menjadi kenda bagi eksekutif dalam menjalankan pemerintahan.
Untuk itu,komunikasi politik yang baik harus menjadi modal
utama Jokowi dalam menjalankan pemerintahan, pendekatan terhadap partai politik
sangat diperlukan, namun kesejahterakan rakyat harus jadi prioritas. Semoga
citra “ndeso” Jokowi bukanlah kamuflase belaka, melainkan sebuah realitas.
