Sabtu, 09 Agustus 2014

Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS)




Sumber Fhoto: http://m.beritajogja.co.id
Akhir-akhir ini pemberitaan Media massa dipenuhi oleh berita-berita mengenai kelompok organisasi yang menamakan dirinya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Menurut reportase BBC, ISIS dibentuk pada April 2013 dan cikal bakalnya berasal dari al-Qaida di Irak (AQI) (walaupun kemudian dibantah oleh al-Qaida). BBC menerangkan bahwa kelompok ini menjadi kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak. BBC meyakini bahwa ISIS akan menjadi kelompok jihadis yang paling berbahaya setelah al-Qaida.[1]
Masih bersumber dari BBC, Organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Dia diyakini lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971 dan bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu. Pada 2010 dia menjadi pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu kelompok yang kemudian menjadi ISIS.
Baghdadi dikenal sebagai komandan perang dan ahli taktik, analis mengatakan hal itu yang membuat ISIS menjadi menarik bagi para jihadis muda dibandigkan al-Qaeda, yang dipimpin oleh Ayman al-Zawahiri, seorang teolog Islam. Prof Peter Neumann dari King's College London memperkirakan sekitar 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan kelompok ini. ISIS mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lain, seperti AS, dunia Arab dan negara Kaukakus.
Masih menurut BBC, tujuan Isis adalah mendirikan kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak. Untuk mewujudkannya, kelompok ini bahkan sudah berhasil membangun kekuatan militer. Pada 2013 lalu, mereka menguasai Kota Raqqa di Suriah - yang merupakan ibukota provinsi pertama yang dikuasai pemberontak. Pada Juni 2014, ISIS juga menguasai Mosul, yang mengejutkan dunia. AS mengatakan kejatuhan kota kedua terbesar di Irak merupakan ancaman bagi wilayah tersebut.
Sumber dana ISIS menurut BBC berasal dari individu kaya di negara-negara Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang mendukung pertempuran melawan Presiden Bashar al-Assad. Saat ini, ISIS disebutkan menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah, yang dilaporkan menjual kembali pasokan minyak kepada pemerintah Suriah. ISIS juga disebutkan menjual benda-benda antik dari situs bersejarah.

ISIS dan Indonesia
Apa hubungan ISIS dengan Indonesia?. Jawaban pertanyaan ini akan menjelaskan bagaimana berita tentang ISIS kemudian ramai di Media Massa dan menjadi buah bibir di masyarakat.  Negara Republik Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ternyata menjadi salah satu target kaderisasi ISIS, dalam salah satu video yang di upload di youtube berjudul Joint The Rank from The Islamic State yang diunggah oleh Jihadology pada tanggal 23 Juli 2014 (video tersebut sekarang sudah di blokir). Seorang Pria didampingi beberapa orang rekannya dengan berapi-api mengajak warga negara Indonesia untuk ber-baiat dan memberikan dukungan kepada Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Kemunculan video tersebut disambut dengan reaksi yang berbeda, sebagian masyarakat ada yang mendukung sampai melakukan aksi demonstrasi, sebagian lainnya menolak dan mencibir. Reaksi berupa penolaka keras datang dari pemerintah Indonesia, hal tersebut di sampaikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) Djoko Suyanto menyatakan Indonesia resmi menolak paham ISIS karena dianggap bertentangan dengan Pancasila.
"Pemerintah tidak mengizinkan paham ISIS berkembang di Indonesia. Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS harus dicegah, Indonesia tidak boleh jadi tempat persemaian," tegas Djoko di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (4/8/2014).[2]

Penolakan tersebut disampaikan Djoko Suyanto setelah melakukan rapat terbatas yang dipimpin SBY pada senin siang (4/8/2014). Dampak dari penolakan ini adalah penghapusan video ajakan untuk bergabung menjadi anggota Islamic State in Irak and Syiria (ISIS) yang beredar di situs YouTube oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Begitu juga dengan BNPT yang langsung memasukan ISIS kedalam kategori kelompok teroris dan menyatakan bahwa warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS terlibat aksi teror, melanggar hukum, dan akan dicabut kewarganegaraannya.[3]

Kritik terhadap Isis
Kritik terhadap ISIS juga datang dari ulama, Imam Besar Masjid Istiqlal, Musthofa Ali Yakub, menilai kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) terlahir bukan dari rahim Islam, kendati kelompok ini mendengungkan label Islam dalam perkembangannya. Seperti yang di kutip Okezone.com Musthofa memaparkan dua alasan untuk memperkuat pendapatnya, yaitu:[4]
Pertama, ajaran atau cara-cara kelompok ini berlawanan dengan ajaran Islam. Misalnya, dalam penggunaan stempel Rasulullah dalam bendera ISIS, dimana ada tulisan berbentuk bulatan dibagian atasnya ada tulisan Allah dan dibawahnya Muhammad, maka bila dibaca dari bawah itu Muhamad Rasulullah. Stempel Rasulullah ini digunakan Rasul untuk mengirim surat ke penguasa, karena surat tidak dibaca kalau tidak ada stempel. Tidak ada satupun umat Islam yang berani memakai stempel ini untuk apapun. Tapi kenyataannya ISIS menggunakan itu untuk stempel mereka.
Kedua, pembunuhan baik itu kepada muslim dan non muslim, terutama terhadap orang yang bukan kelompoknya itu sangat jelas bukanlah ajaran Islam. Mustofa menontohkan kabar yang menyebutkan ISIS membunuh orang non muslim di Armenia. Padahal menurutnya Islam tidak pernah mengajarkan membunuh orang muslim dan non muslim karena perbedaan.
Tidak hanya pemerintah Indonesia dan ulama Indonesia, Kritik terhadap ISIS juga datang dari kelompok Islam International. Salah satunya adalah Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS), yang dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi, Sepertei yang dikutip dakwatuna IUMS mengeluarkan pernyataan terkait deklarasi khilafah islamiyah yang dilakukan oleh organisasi ISIS.
·         Pertama, IUMS menekankan bahwa deklarasi khilafah yang dilakukan ISIS untuk wilayah cukup luas di Irak dan Suriah tidak sah secara syariah Islam dan juga tidak membantu proyek kejayaan Islam.
·         Kedua, khilafah versi ISIS menurut Qardhawi tidak didasarkan pada manhaj Nabi saw. dan syura.
·         Ketiga, Khilafah versi ISIS mengakibatkan banyak bahaya kepada Sunni di Irak dan juga kepada revolusi di Suriah.
·         Keempat, ISIS dianggap kurang menguasai fiqh waqi’ (memahami realitas), sehingga bahkan terkesan meruntuhkan revolusi rakyat yang dilakukan oleh suku-suku Sunni dan kelompok-kelompok revolusi yang lain di Irak.
Akibatnya, menurut IUMS, setelah deklarasi khilafah dan mengangkat seorang khalifah, ISIS melanjutkannya dengan menuntut umat Islam seluruh dunia untuk tunduk dan taat kepadanya, ini dilakukan tanpa standar syariah dan realitas. Bahkan sisi bahayanya lebih besar daripada sisi manfaatnya. Menurut Qardhawi, Tidak mungkin semua organisasi perjuangan di seluruh dunia Islam dianggap ilegal dan tidak sah begitu ada deklarasi sepihak yang kemudian menamakan dirinya sebagai khilafah. Padahal saat itu umat Islam tidak disertakan sama sekali. Apalagi banyak orang jadi mempunyai kesan tentang khilafah sebagai sebuah sikap yang keras. Hal itu ketika khilafah dihubungkan dengan ISIS. Umat Islam akan merekam negatif segala yang terkait dengan khilafah. Sehingga deklarasi ini pun bisa dikatakan tidak mendukung proyek kejayaan Islam.  Wallahu’alam


[1] http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/07/140725_profil_isis.shtml
[2] http://news.okezone.com/read/2014/08/05/337/1019978/pemerintah-larang-isis-berkembang-di-indonesia
[3] http://www.tempo.co/read/news/2014/08/04/078596979/BNPT-ISIS-Bisa-Jadi-Gerakan-Makar
[4] http://news.okezone.com/read/2014/08/06/337/1020859/imam-besar-istiqlal-isis-dilahirkan-bukan-dari-rahim-islam