Minggu, 08 Januari 2012

Belajar Dari Muhammad Natsir


Kritikan sekaligus tamparan keras bagi para politikus datang dari M Busyro Muqoddas mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang saat ini masih menjadi pimpinan KPK. Menurutnya gaya hidup elit politik saat ini cenderung hedonis pragmatis. Para elit bangsa mengedepankan nafsu dan syahwat politik kekuasaan. Ini jelas paradoks dengan kondisi rakyat yang masih berada di garis kemiskinan. Kaum elite memakai mobil dinas Crown Royal Salon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri tetangga. Kritik ini di sampaikan saat orasi kebudayaan di Jakarta, medio November 2011 lalu. Kritik Busyro selanjutnya disampaikan saat , Senin (14/11) di Jakarta. Busyro mengatakan bahwa moralitas politikus dan elite bangsa menyebabkan rakyat semakin miskin dan terus dimiskinkan.

Sebuah kenyataan yang menggambarkan keangkuhan para elit politik di atas kondisi rakyat yang dirudung banyak permasalahan, padahal jika masih mempunyai nurani mereka seharunya lebih meresapi dan berempati terhadap kondisi rakyat yang selalu terdzolimi, bukannya malah berlomba-lomba tampil perlente di depan umum, karena perlu diingat hingga saat ini jumlah presentasi kemiskinan dan pengangguran di Indonesia masih tegolong cukup tinggi. Hal ini tentunya cukup memberikan bukti bahwa para elit politik yang mengatasnamakan rakyat sebenarnya hanya memperkaya diri, menambah dan melupakan kewajibannya untuk melayani masyarakat.

Kondisi tersebut diperparah dengan kinerja elit politik yang masih berjalan di tempat, DPR RI contohnya pada tahun 2011 lalu tak satupun dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2011 yang berhasil disahkan jadi undang-undang. Belum lagi kasus-kasus korupsi yang menjerat para politikus kita, mulai dari terkuaknya kasus suap Sekretaris Menpora Wafid Muharam pada proyek pembangunan Wisma Atlet di Palembang, kasus suap di Kemenakertrans, menampakan wajah buruk politikus kita. Belum lagi masih berjalan ditempat seperti skandal Bank Century, mafia pajak, dan terakhir kasus Muhamad Nazarudin, dan kasus lainnya.

Hedonisme saat ini memang menjadi penyakit yang mengidap para politisi. Menurut Filsuf Yunani Epikuros (341-270 SM), kenikmatan merupakan satu-satunya awal dan tujuan hidup untuk menggapai kebahagiaan. Sedangkan moral, hanya akan berarti sepanjang bisa memberikan rasa nikmat. Dengan kata lain sikap hedonisme menjadikan kenikmatan sebagai tujuan hidup, dan moral tidak berarti apa-apa jika bertentangan dengan usaha meraih kenikmatan. Sikap hedonistik hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan yang dirasakan individu tanpa memperdulikan kesusahan orang lain.

Pola pikir dan budaya hedonis seperti ini tentunya akan semakin memperparah kondisi bangsa yang carut marut, lagi-lagi masyarakat hanya akan menjadi korban para penguasa, sementara para elit politik menikmati kekuasaan sementara 30,02 juta penduduk Indonesia lainnya berada di bawah garis kemiskinan, sungguh suatu kondisi yang memperlihatkan kondisi moral elit politik yang memprihatinkan dan sangat tidak pantas dilakukan.

Melihat kondisi seperti ini sejatinya harus banyak mencontoh dan meneladani kesederhanaan mantan Menteri Penerangan dan Perdana Menteri era Soekarno yaitu Muhammad Natsir. Natsir adalah seorang politikus yang dicintai oleh umatnya, juga dipercayai oleh kawan politiknya, selain itu Natsir seorang politikus yang disegani oleh lawan ideologisnya.

Muhammad Natsir merupakan sosok politikus yang sederhana, sebagai seorang kepala keluarga Natsir mengajarkan kesederhanaan kepada keluarganya, meski sebagai seorang pejabat keluarganya tidak punya seorang pembantu, keluarganya harus membersihkan tempat tidur sendiri dan mencuci piring secara gotong royong, bahkan dari segi makanan, daging dan ayam adalah suatu kemewahan.

Muhammad Natsir memang tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjadi perdana menteri, namun jabatanya ini bukan sekedar untuk mencari prestise atau mencari uang dan memperkaya diri, jabatanya benar-benar digunakan untuk pelayanan terhadap masyarakat. Hal tersebut jelas terlihat dari kehidupannya sehari-hari sebagai pejabat, Natsir bahkan sering meninggalkan kantor kementriannya pulang menuju rumah dengan mengayuh sepeda. Mobil dinasnya diserahkan saat itu kepada Negara, bahkan baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai Menteri adalah baju yang penuh dengan tambalan.

Natsir adalah seorang pemimpin yang tak segan-segan mengenakan sarungnya, Natsir adalah seorang perdana menteri yang tak pernah mempermasalahkan pakaian yang dikenakanya. Natsir adalah seorang tokoh yang adil, dan selalu siap melayani masyarakat. Sungguh merupakan seorang sosok yang sulit kita temukan pada kondisi perpolitikan saat ini. Politikus kita saat ini hanya memikirkan kekuasaan, tak menjunjung tinggi hajat dan kepentingan rakyat Indonesia yang telah memilih mereka saat pemilihan umum. Ditengah hedonisme elit politik seperti ini mengenang sosok M Natsir bagaikan punguk merindukan bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar